Merauke – Kabarlagi.id. Peternak sapi di perbatasan timur Indonesia kini dibekali keterampilan membuat pakan alternatif guna menjaga kelangsungan ternak saat musim kering melanda. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 16 Peternakan IPB menggelar lokakarya dan pelatihan manajemen ternak berkelanjutan di Kampung Waninggap Kai, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Selasa, (20/10/2026).
Pelatihan tersebut menyasar para pemelihara sapi dari dua kampung sekaligus, yakni Waninggap Kai dan Muramsari. Pembahasannya mencakup tiga pilar utama: optimalisasi pakan, pengelolaan kandang, serta pemantauan kesehatan ternak.
Langkah ini krusial. Soalnya, peternak di wilayah transmigrasi kerap menghadapi kendala menipisnya ketersediaan hijauan segar saat musim kemarau datang.
Untuk menjawab masalah ketersediaan pakan tersebut, tim IPB menghadirkan praktisi peternakan sekaligus CEO dan Founder PT Agro Apis Palacio, Ardiansah Febriantoko, S.TP., M.Si. Lewat pendekatan “Pakan Lebih Baik, Ternak Lebih Untung”, Ardiansah mendorong warga memaksimalkan potensi limbah pertanian dan hijauan di lingkungan sekitar permukiman agar biaya pakan bisa ditekan tanpa menurunkan bobot sapi.
Usai sesi teori, para peternak langsung diajak meracik pakan fermentasi secara mandiri. Bahan yang digunakan meliputi jerami, hijauan, dedak, molases, cairan EM4, serta kunyit sebagai imbuhan alami.
Bahan bakunya mudah didapat. Pengolahan ini disiapkan sebagai cadangan pakan tahan lama saat pasokan rumput padang gembala mulai mengering.
Perwakilan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Merauke, Ika Risma, A.Md.Pt., mengingatkan peserta bahwa peternakan sapi merupakan tumpuan pendapatan petani yang menuntut disiplin pemeliharaan. Menurutnya, tata kelola kandang yang buruk dan pengabaian biosekuriti rentan memicu bibit penyakit masuk ke populasi ternak warga.
“Merawat ternak itu tidak bisa dilakukan asal-asalan. Manajemen kandang dan biosekuriti harus benar-benar diperhatikan. Saya juga berpesan kepada para peternak agar mempersiapkan ketersediaan pakan saat musim kemarau. Pakan dapat memanfaatkan jerami atau dengan menanam rumput yang nantinya bisa diolah menjadi pakan fermentasi,” jelas Ika.
Dukungan serupa diutarakan Kepala Kampung Waninggap Kai, Sumardi, yang meminta para peternak mempraktikkan langsung ilmu fermentasi dan perawatan kandang di rumah masing-masing.
“Mudah-mudahan acara workshop ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan bisa kita terapkan di masyarakat maupun dalam lingkungan kita sehari-hari,” ujar Sumardi.
Sementara itu, Ketua TEP 16 Peternakan IPB, Dr. Tekad Urip Pambudi Sujarnoko, S.Pt., M.Si., menegaskan bahwa program pengabdian bersama Kementerian Transmigrasi ini bertujuan memperkuat kapasitas peternak lokal hingga ke tahap pemasaran.
“Semoga dengan adanya Program Ekspedisi Patriot ini dapat memberikan manfaat bagi para peternak sapi di Waninggap Kai dan Muramsari, serta sesuai dengan harapan dari Program Kementerian Transmigrasi. Kedepannya, semoga kita dapat terus berdiskusi untuk membahas berbagai peluang yang ada di wilayah ini, termasuk dalam merajut pasar ternak. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Transmigrasi atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk melaksanakan pengabdian melalui program ini. Semoga pelatihan ini berjalan dengan baik dan menjadi amal jariah bagi kita bersama,” pungkasnya. (Rizki)










