Merauke – Kabarlagi.id. Jamaah dan pengurus Masjid Nurul Husna Polder memadati ruang utama masjid untuk mengikuti kajian Fikih rutin pada Rabu, (23/09/2026) malam. Kehadiran mereka menandai bergulirnya majelis perdana pembahasan kitab Matan Abu Syuja’ yang diasuh langsung oleh Ust. Muh Dic Hidayat Ratuloly, S.Pd.,MPS.
Suasana khusyuk menyelimuti agenda yang dijadwalkan rutin setiap ba’da Magrib hingga Isya di wilayah Papua Selatan ini. Program ini dirancang bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya strategis untuk memperkuat fondasi ibadah masyarakat setempat melalui pendekatan mazhab Syafi’i.
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Nurul Husna Akbar, S.Pd.I., M.Pd. membuka majelis dengan mengutip Surah Adz-Dzariyat ayat 56 tentang tujuan penciptaan manusia. Ia menyoroti korelasi kuat antara pemahaman ilmu agama dan fluktuasi semangat beramal.
“Seseorang ketika konsisten beribadah dan meningkatkan ibadahnya pasti didasari ilmu pengetahuan yang dimiliki atau didapatkan, tetapi ketika bermalas-malasan atau enggan beribadah kemungkinan karena tidak memiliki ilmu pengetahuan,” ungkap Akbar.
Berangkat dari fenomena tersebut, jajaran pengurus mengambil langkah konkret. Majelis ilmu yang terstruktur dinilai sebagai solusi paling masuk akal untuk mengatasi keengganan beribadah akibat kurangnya wawasan keagamaan.
“Oleh karena itu, program kajian ini dilaksanakan agar jemaah khususnya di Masjid Nurul Husna Polder Merauke lebih semangat dan meningkatkan ibadahnya,” tambahnya.
Memasuki sesi utama, Ustaz Muhammad Dic memaparkan pengantar awal mengenai urgensi mempelajari ilmu fikih. Pendakwah bergelar S.Pd.I., MPS ini membedah kerangka dasar hukum Islam sebelum masuk ke materi inti kitab.
Pembahasan kemudian mengerucut pada Bab Thaharah atau pedoman kebersihan. Kajian malam itu berfokus pada klasifikasi air yang sah digunakan untuk bersuci, sebuah landasan penting sebelum melangkah ke tata cara ibadah lainnya.
Materi spesifik tentang jenis-jenis air ini baru menyentuh permukaan dan akan didalami lebih lanjut pada pertemuan pekan depan. Kehadiran wadah keilmuan ini diproyeksikan terus berlanjut untuk menyemarakkan syiar dakwah di ujung timur Indonesia. (Rizki)












