Tag: Haji

  • Indosat dan BERSATHU Kawal Koneksi Jamaah di Tanah Suci

    Jakarta – Kabarlagi.id. Menghilangkan sekat jarak di tengah kekhusyukan ibadah menjadi misi utama Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) lewat kolaborasi strategis bersama Kebersamaan Pengusaha Travel Haji dan Umrah (BERSATHU). Langkah ini diambil guna memastikan ribuan jamaah asal Indonesia tetap dapat membagi kabar dan berkoordinasi tanpa hambatan teknis saat berada di Tanah Suci.

    Melalui kemitraan ini, para tamu Allah kini bisa mengakses paket SimpleRoam Umrah Haji dari IM3 dan layanan Tri Ibadah dengan lebih praktis. Paket yang ditawarkan tergolong masif, yakni kuota hingga 71GB dengan harga mulai dari Rp250 ribu. Tak hanya di Arab Saudi, jangkauan koneksinya melebar hingga 16 negara, mencakup wilayah transit seperti Qatar, Mesir, Turki, hingga Malaysia dan Singapura.

    “Bagi kami, konektivitas di perjalanan Haji dan Umrah bukan hanya soal internet, tetapi soal ketenangan. Tentang bagaimana jamaah bisa memberi kabar ke keluarga dan fokus beribadah tanpa khawatir soal komunikasi,” tegas Bilal Kazmi, Director and Chief Commercial Officer Indosat Ooredoo Hutchison di Jakarta, Selasa, (24/02/2026).

    Kazmi menjelaskan bahwa kampanye #lebihbaikIndosat bertujuan menghadirkan pengalaman digital yang bermakna. Agar akses semakin mudah, layanan ini telah diintegrasikan ke dalam jaringan distribusi lebih dari 200 agen travel yang tergabung dalam BERSATHU di seluruh Indonesia. Jamaah bahkan sudah bisa mengaktifkan paket ini sejak fase manasik, sehingga tidak perlu lagi mencari kartu perdana lokal saat tiba di bandara tujuan.

    Sinergi ini juga memberikan angin segar bagi para pengusaha travel. Integrasi layanan telekomunikasi ke dalam paket perjalanan dianggap sebagai nilai tambah yang meningkatkan standar pelayanan kepada jamaah.

    “Kebutuhan komunikasi kini menjadi bagian penting dari perjalanan Haji dan Umrah. Dengan dukungan Indosat melalui SimpleRoam Umrah Haji IM3 dan Tri Ibadah, kami ingin memastikan jamaah bisa beribadah dengan lebih tenang, sekaligus tetap merasa dekat dengan keluarga di rumah,” ungkap H. Farid Aljawi, SH, MH, Ketua Harian DPP BERSATHU di Jakarta, Selasa, (24/02/2026).

    Sebagai jaminan kenyamanan ekstra, setiap paket roaming tersebut juga dilengkapi dengan bonus kuota domestik sebesar 1GB. Hal ini memastikan koneksi internet jamaah tetap aktif sejak berangkat dari rumah hingga kembali menginjakkan kaki di tanah air.

    Langkah Indosat ini mempertegas posisinya yang tak lagi sekadar penyedia jaringan, melainkan mitra perjalanan spiritual bagi masyarakat. Dengan memperluas kanal distribusi melalui mitra ritel dan agregator digital, akses terhadap solusi konektivitas ini diharapkan dapat menjangkau jamaah hingga ke pelosok daerah. (Rizki)

  • Budaya Haji: Mencari Makna, Bukan Sekadar Gelar

    Oleh : Masdjo Arifin
    Founder Beltara (Bela Negara Nusantara)

    Jakarta,- Kabarlagi.id.Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang paling sakral. Tapi lebih dari sekadar kewajiban agama, haji sejatinya adalah perjalanan spiritual menuju puncak kearifan manusia. Dalam kerangka budaya yang hakiki—yakni budaya sebagai fitrah manusia untuk mencari kebenaran dan kebijaksanaan—pelaksanaan haji tidak cukup hanya dipahami dalam bentuk ritual atau simbolik. Ia adalah panggilan jiwa yang mengarah pada transformasi diri.

    Haji: Sebuah Jalan Menuju Kearifan

    Hakikat dari budaya adalah kecenderungan manusia terhadap kebijaksanaan. Dalam pandangan ini, pelaksanaan haji menjadi lebih dari sekadar ritual tahunan; ia adalah proses spiritual yang membawa manusia mendekati esensi kemanusiaannya. Mereka yang menjalani haji dengan kesadaran mendalam akan hakikat ibadah ini—yang menembus batas formalitas dan simbol sosial—akan tumbuh menjadi manusia berbudaya dalam makna sejatinya: manusia yang arif, bijaksana, dan berkontribusi nyata pada lingkungannya.

    Namun, tidak sedikit yang memandang haji hanya sebagai pelengkap lima rukun Islam, atau bahkan hanya sebagai status sosial. Mereka yang melihat haji sebatas “penyelesaian administrasi keislaman” sesungguhnya belum menyentuh substansi haji itu sendiri. Ibadah haji yang sejati bukan hanya tentang pergi ke Makkah, tetapi juga tentang pulang dengan jiwa yang baru dan kesadaran yang lebih tinggi.

    Cerita dan Narasi: Haji dalam Budaya Masyarakat

    Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, haji telah menjadi bagian penting dari konstruksi budaya Islam. Cerita-cerita tentang perjuangan menuju Tanah Suci, dari menabung bertahun-tahun hingga berbagai pengalaman spiritual di Makkah dan Madinah, menjadi warisan lisan yang hidup di tengah masyarakat. Kisah-kisah ini memupuk semangat dan harapan, serta memperkuat posisi haji sebagai ibadah yang istimewa secara sosial dan emosional.

    Tak heran jika gelar “Haji” menjadi bagian identitas kehormatan di masyarakat. Tokoh-tokoh masyarakat sering kali diidentifikasi lewat gelar ini, menjadikannya sebagai lambang religiusitas dan kewibawaan moral. Namun di sinilah sering terjadi penyimpangan makna: ketika gelar lebih dimuliakan daripada nilai yang seharusnya terkandung di dalamnya.

    Sejarah Kolonial dan Dimensi Politik Gelar Haji

    Secara historis, gelar “Haji” juga memiliki dimensi politik yang penting. Pada masa kolonial Belanda, pemerintah Hindia Belanda mencemaskan potensi subversif dari para haji. Mereka khawatir bahwa pengalaman spiritual dan kebangkitan kesadaran umat Islam pasca-haji akan mendorong gerakan anti-penjajahan.

    Pada tahun 1872, Belanda membuka Konsulat Jenderal di Arab Saudi untuk memantau jemaah haji dari Hindia Belanda. Jemaah bahkan diwajibkan mengenakan atribut khusus agar mudah dikenali dan diawasi. Dalam konteks ini, gelar haji menjadi semacam identitas politik, sekaligus bentuk kontrol budaya oleh penguasa kolonial.

    Haji Prestise: Budaya Simbolik Tanpa Substansi

    Dalam realitas sosial keindonesiaan hari ini, praktik haji sering kali terjebak dalam budaya prestise. Banyak yang berhaji untuk mendapatkan pengakuan sosial, bukan pencerahan spiritual. Inilah yang disebut sebagai haji kemasan—yang hanya menyentuh permukaan, tanpa membuahkan transformasi moral.

    Orang yang berhaji namun tetap korup, menindas, dan merusak, sejatinya belum menjadi “haji” dalam makna ruhaniahnya. Mereka hanya menjadi haji dalam bentuk, bukan dalam ruh. Fenomena ini membuat banyak orang skeptis, dan tak jarang melontarkan kritik keras terhadap perilaku sebagian yang bergelar haji namun tetap melakukan tindakan menyimpang setelah kembali ke tanah air.

    Haji sebagai Transformasi Sosial

    Haji seharusnya menjadi titik balik. Ia bukan hanya ibadah vertikal kepada Tuhan, tetapi juga komitmen horizontal kepada sesama manusia. Haji sejati adalah haji yang melahirkan kesadaran sosial—mengubah cara seseorang memimpin, berdagang, bermasyarakat, dan berpolitik.

    Mereka yang benar-benar mabrur adalah mereka yang mampu membawa spirit haji ke dalam seluruh aspek hidupnya: jujur dalam jabatan, adil dalam kekuasaan, dan amanah dalam tanggung jawab sosial. Itulah bentuk dari haji berbudaya—haji yang tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga bermakna dalam realitas.

    Kembali pada Makna Hakiki

    Budaya haji bukanlah sekadar pakaian ihram, gelar kehormatan, atau cerita perjalanan. Ia adalah proses mendalam untuk menjadi manusia yang lebih sadar, lebih bersih, dan lebih bijaksana. Dalam dunia yang semakin sibuk dengan simbol dan tampilan luar, haji mengajarkan kita untuk kembali ke inti: kejujuran, kesederhanaan, dan ketundukan total kepada Yang Maha Esa.

    Haji sejati adalah mereka yang pulang membawa bukan hanya oleh-oleh, tetapi juga oleh-hati—yakni hati yang terdidik, tercerahkan, dan siap berbuat lebih baik untuk sesama.