Iklan

Jakarta, — Kabarlagi.id Tidak semua kisah cinta berakhir dengan bahagia. Ada hubungan yang justru meninggalkan kegelisahan, luka, bahkan membuat seseorang perlahan kehilangan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

Kegelisahan itulah yang coba disuarakan Agung Hermawan melalui single terbarunya berjudul “Atas Nama Siapa?”. Bagi pencinta musik Indonesia, khususnya penikmat reggae, lagu ini menawarkan perjalanan emosional yang tidak hanya berbicara tentang patah hati, tetapi juga tentang batas, pilihan, dan keberanian menghargai diri sendiri.

Menurut Agung, lagu tersebut lahir dari kegelisahan melihat hubungan yang terkadang menjadikan cinta, ego, bahkan pembenaran atas nama nilai-nilai tertentu sebagai alasan untuk memaksakan kehendak kepada pasangan.

Iklan

“Kadang kita bertanya, ketika seseorang memaksakan kehendaknya atas nama cinta, sebenarnya atas nama siapa semua itu dilakukan?” ujar Agung saat ditemui di Bebek Habibeat Pejaten, Jakarta Selatan, Senin (28/9/2026).

Pertanyaan tersebut menjadi napas utama dalam “Atas Nama Siapa?”. Melalui karya ini, Agung mencoba mengajak pendengar melihat kembali makna sebuah hubungan. Cinta, menurut pesan yang dibawa lagu tersebut, semestinya tidak menjadi alasan untuk menghilangkan kebebasan, suara hati, maupun pilihan seseorang.

Bahkan, nama Tuhan pun tidak semestinya dijadikan pembenaran untuk melakukan tindakan yang menyakiti atau memaksa orang lain.

Iklan

Pesan itu terasa semakin kuat ketika dibalut karakter musik reggae yang emosional. Irama yang santai berpadu dengan tema lirik yang reflektif, menciptakan ruang bagi pendengar untuk berhenti sejenak dan melihat kembali pengalaman dalam sebuah hubungan.

“Atas Nama Siapa?” juga didedikasikan Agung bagi mereka yang tengah berusaha bangkit dari hubungan manipulatif maupun relasi yang membuat seseorang merasa kehilangan dirinya sendiri.

Bagi Agung, cinta bukan perlombaan untuk memenangkan dalil. Cinta juga bukan pembenaran atas luka. Hubungan yang sehat semestinya memberi ruang bagi dua manusia untuk saling menghormati, mendengar, dan menghargai pilihan masing-masing.

Karena itu, lagu ini tidak semata-mata mengajak pendengar meratapi masa lalu. Sebaliknya, “Atas Nama Siapa?” membawa pesan tentang keberanian untuk mengambil keputusan ketika sebuah hubungan sudah tidak lagi memberikan ruang bagi penghormatan terhadap diri sendiri.

Sebab, terkadang pergi bukan berarti berhenti mencintai.

Pergi bisa menjadi cara seseorang untuk kembali menemukan dirinya, memulihkan luka, dan belajar menghargai diri sendiri.

Pada akhirnya, “Atas Nama Siapa?” bukan sekadar judul sebuah lagu. Ia menjadi pertanyaan yang sengaja dibiarkan terbuka tentang cinta, batas, luka, pilihan, dan keberanian seseorang untuk menentukan jalan pulang kepada dirinya sendiri.

Melalui musik reggae, Agung Hermawan mencoba mengubah kegelisahan menjadi karya. Dan dari karya itu, ia mengajak pendengar untuk bertanya kepada diri sendiri: ketika cinta mulai menghilangkan kebebasan, masihkah itu benar-benar tentang cinta?**