Menu ✖

Mode Gelap
JUMAT DALAM TITIAN WAKTU Polres Merauke Raih Juara I LKTI HUT Lalu Lintas ke-71 Lanud Dimara Kenalkan SMA Pradita Dirgantara di SMPN 2 Merauke TEP IPB Kaji Jerami Amoniasi, Siasati Pakan Sapi Salor Saat Kemarau TNI dan Warga Tanam 3.000 Bibit Mangrove di Pantai Yobar Merauke

Artikel · 16 Okt 2026 08:59 WIT ·

JUMAT DALAM TITIAN WAKTU


					JUMAT DALAM TITIAN WAKTU Perbesar

JUMAT DALAM TITIAN WAKT

Oleh: M.Guntur Alting

Dewan Pembina SWI Jaya (DPW SWI DKI Jakarta)

​ADA hari dalam kalender yang berjalan dengan langkah berat, menyeret kaki seperti orang kelelahan menapaki tanjakan terjal.

Namun ada pula hari yang datang seperti embusan angin sore di beranda rumah: melegakan, memberi janji, dan membasuh debu penat yang menempel di kepala selama sepekan penuh.

Hari itu bernama Jumat.

​Bagi kebanyakan kita, Jumat bukan sekadar angka pada lembaran kalender atau penanda urutan fajar.

Ia datang tidak sebagai penutup yang lelah, melainkan sebuah jeda—titik koma yang panjang di tengah kalimat kehidupan yang terlampau cepat.

-000-

​Di kota ini, menjelang siang, udara mendadak berubah. Ada desing yang berbeda di jalan-jalan raya. Sepasang mata melirik jam tangan, lalu menatap langit yang kadang terik, kadang menyimpan mendung.

Orang-orang bergegas, bukan karena takut terlambat, tapi karena mereka tahu ada ruang tunggu yang “sakral” di hadapan sana: waktu salat Jumat.

​Kita hidup dalam zaman yang menuntut segala hal serba instan. Layar gawai menyala tanpa henti, notifikasi berderik seperti jangkrik malam, dan target-target pekerjaan mengejar kita hingga ke mimpi.

Manusia modern telah lama menjadi tawanan dari apa yang disebut “produktivitas.”

Kita berlari, terengah-engah, meyakini bahwa berhenti sebendar adalah sebuah kekalahan.

​Lalu Jumat datang, menawarkan semacam suaka.

​Di trotoar-trotoar Jakarta, di kolong jembatan layang, atau di halaman masjid yang tumpah ruah, kita melihat wajah lain dari hari ini.

Bungkus-bungkus nasi kotak berpindah tangan dari mereka yang berlebih kepada mereka yang lapar. “Jumat Berkah,” kata orang-orang.

Sebuah frasa klise yang sering diobral, namun di dalamnya tetap tersimpan sisa-sisa kemanusiaan yang belum sepenuhnya mati.

-000-

Di tengah individualisme kota besar yang dingin, di mana tetangga sebelah rumah kerap menjadi orang asing, hari Jumat memaksa kita untuk menengok sekeliling.

Bahwa hidup ini, pada akhirnya, bukan sekadar tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, tapi tentang apa yang bisa kita bagi.

​Namun, Jumat juga penuh dengan paradoks yang menggelitik. Ia adalah hari suci yang dirayakan di tengah kepulan asap knalpot dan kemacetan yang merayap.

Klakson beradu nyaring di jalan-jalan protokol. Orang-orang bergegas menuju Tuhan dengan wajah cemberut karena terjebak di kemacetan perempatan jalan.

Sebuah ironi yang khas urban: kita ingin mencari ketenangan batin, tetapi harus menebusnya dengan menguras kesabaran di atas aspal yang panas.

​Di dalam masjid, ketika khotbah mulai menggema dan ribuan orang duduk bersila tanpa sekat, sejenak atribut-atribut dunia tanggal.

Direktur dan pesuruh duduk berdampingan. Orang kaya dan pengemudi ojek online merapatkan barisan. Di tempat itu, kesunyian kolektif merayap.

Ada doa-doa yang dipanjatkan, ada air mata yang ditahan, ada lelah sepekan yang diletakkan di atas lantai keramik yang dingin.

-000-

​Goenawan Mohamad pernah menulis tentang bagaimana kita kerap berunding dengan waktu. Dan di hari Jumat, perundingan itu terasa paling intens.

​Menjelang sore, ketika bayangan pohon mulai memanjang dan kantor-kantor mulai melonggarkan ikatan birokrasinya, ada desir kelegaan yang merambat di dada.

Orang-orang menyebutnya TGIF. Sebuah ungkapan syukur yang sekuler, tapi jujur.

Kita merayakan akhir pekan seolah-olah kita baru saja lolos dari sebuah hukuman penjara yang panjang.

Kafe-kafe mulai penuh, gelak tawa terdengar lebih nyaring, dan rencana-rencana kecil tentang perjalanan ke luar kota mulai dibicarakan di balik meja bar.

​Tetapi, tahukah kau?

Di balik euforia sore itu, selalu ada bayang-bayang yang tipis. Bayang-bayang bernama waktu yang terus berjalan.

​Sebab kita tahu, di balik senyum lebar hari Jumat sore, ada Minggu malam yang sabar menanti di tikungan.

Hari di mana ketakutan-ketakutan kecil akan hari Senin akan kembali mengetuk pintu kepala kita.

​Maka, sebelum petang benar-benar turun dan membungkus kota dalam gelap, nikmatilah Jumat ini sebagai sebuah puisi pendek.

Hari di mana kita belajar bahwa hidup tidak melulu soal berlari, tapi juga tentang tahu kapan harus menarik napas dalam-dalam, menengadah ke langit, dan membiarkan waktu berjalan sendiri.

Itulah Jumat pada titian “Sang Wakttu.”

Happy Friday (**)
—
Pejaten, 16 Oktober 2026
Pukul: 05:17

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Budayantara Fest 2026: Ketika Budaya Menjadi Suara Kemanusiaan untuk Palestina

25 September 2026 - 16:36 WIT

Trending di Artikel