Oleh : Syamsul Arifin (Masdjo) -Founder Budayantara Media Digital Nusantara (BMDN)
Jakarta,— Kabarlagi.id Dukungan terhadap Palestina tidak selalu harus disuarakan melalui ruang-ruang diplomasi formal. Kebudayaan juga dapat menjadi bahasa kemanusiaan bahasa yang mampu mempertemukan manusia dengan manusia, melewati batas negara, agama, suku, dan latar belakang.
Semangat itulah yang hendak dihadirkan Budayantara Media Digital Nusantara (BMDN) bersama Ikatan Keluarga Besar Betawi (IKB) Jabodetabek melalui gerakan Diplomasi Budaya dalam “Budayantara Fest 2026”, yang akan berlangsung pada 24–25 Oktober 2026 di Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat.
Pergelaran tersebut membawa pesan solidaritas kemanusiaan bagi rakyat Palestina. Seruan “Free Palestine” ditempatkan bukan semata sebagai slogan, melainkan sebagai ekspresi kepedulian terhadap hak rakyat Palestina untuk hidup aman, bermartabat, dan menentukan masa depannya sendiri.
Pesan ini hadir sejalan dengan sikap Pemerintah Indonesia yang kembali menekankan pentingnya penghentian kekerasan, gencatan senjata, akses bantuan kemanusiaan, serta pemulihan kehidupan masyarakat Gaza.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyampaikan hal tersebut dalam High Level Roundtable on Gaza Early Recovery “From Sharm El-Sheikh to Phase II – Consolidating Peace and Early Recovery”, di sela-sela Sidang Majelis Umum ke-81 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 23 September 2026 waktu Amerika Serikat.
Menurut posisi yang disampaikan Indonesia, perdamaian bagi rakyat Gaza tidak cukup dimaknai sebagai berhentinya kekerasan. Masyarakat Gaza juga membutuhkan kesempatan untuk kembali memperoleh layanan dasar, membangun infrastruktur, memulihkan penghidupan, serta menjalani kehidupan yang layak dan bermartabat.
Pesan tersebut memiliki makna kemanusiaan yang kuat.
Sebab di balik angka, diplomasi dan berbagai perundingan internasional, terdapat manusia biasa yang ingin kembali menjalani kehidupan: keluarga yang ingin berkumpul, anak-anak yang ingin belajar, orang tua yang ingin melihat masa depan anaknya, serta masyarakat yang ingin hidup tanpa rasa takut.
Dalam konteks itulah, Budayantara memandang kebudayaan dapat mengambil peran sebagai jembatan kemanusiaan.
Budaya sebagai bahasa perdamaian
Budayantara Fest 2026 tidak sekadar dirancang sebagai pertunjukan seni dan budaya. Festival ini diarahkan menjadi ruang perjumpaan masyarakat sekaligus medium untuk menyampaikan pesan bahwa solidaritas terhadap Palestina dapat dibangun melalui pendekatan yang damai, humanis, dan berbudaya.
Keragaman budaya Indonesia menjadi kekuatan untuk menyampaikan pesan tersebut.
Dari Jakarta, khususnya melalui identitas budaya Betawi yang terbuka terhadap keberagaman, Budayantara dan IKB Jabodetabek ingin memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan dapat tumbuh dari ruang-ruang kebudayaan.
“Free Palestine” menjadi seruan untuk menjaga solidaritas dan kemanusiaan melalui kolaborasi budaya.
Dengan pendekatan tersebut, dukungan terhadap Palestina tidak berhenti pada kata-kata, tetapi diterjemahkan menjadi ruang dialog, pertukaran budaya, dan kepedulian antarmanusia.
Langkah ini juga sejalan dengan prinsip Indonesia yang selama ini menempatkan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina sebagai bagian dari politik luar negeri dan amanat konstitusi. Kementerian Luar Negeri menegaskan bahwa dukungan terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Palestina merupakan bagian dari arah kebijakan Indonesia.
Dari Jakarta, pesan kemanusiaan untuk dunia
Budayantara Fest 2026 ingin menjadikan Jakarta bukan hanya sebagai tempat berlangsungnya festival, tetapi juga sebagai ruang lahirnya pesan kebudayaan yang lebih luas.
Pesannya sederhana: kemanusiaan tidak mengenal batas geografis.
Ketika sebuah bangsa mengalami penderitaan, masyarakat dari berbagai belahan dunia dapat memilih untuk membangun kepedulian dengan cara masing-masing. Bagi Budayantara dan IKB Jabodetabek, salah satu jalannya adalah melalui kebudayaan.
Seni, tradisi, musik, perjumpaan masyarakat dan ruang kebersamaan diharapkan dapat menjadi bahasa yang mempertemukan hati manusia.
Sebab pada akhirnya, perdamaian bukan hanya tentang dokumen dan kesepakatan politik. Perdamaian juga tentang bagaimana seorang anak dapat kembali bersekolah, sebuah keluarga dapat kembali memiliki rumah, dan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan martabat.
Perserikatan Bangsa-Bangsa sendiri dalam forum pemulihan awal Gaza pada 23 September menekankan bahwa pemulihan harus segera menghasilkan perbaikan nyata dalam kehidupan masyarakat Palestina, termasuk pemulihan layanan dasar dan penghidupan.
Dari semangat itulah Budayantara Fest 2026 membawa pesan: kebudayaan dapat menjadi ruang untuk merawat solidaritas, memperkuat persaudaraan, dan menyuarakan harapan.
Dari Jakarta untuk kemanusiaan.
Dari budaya untuk perdamaian.
Dan dari Indonesia, sebuah pesan solidaritas: Free Palestine.***












