Oleh: Dr. Tekad Urip Pambudi Sujarnoko, S.Pt., M.Si.,
Dosen Analisis Kimia, Sekolah Vokasi IPB University
Merauke – Kabarlagi.id. Semangat perjuangan dua abad Perang Jawa kini bertransformasi menjadi ekspedisi pembangunan di Ujung Timur Nusantara. Pengelolaan kawasan transmigrasi Salor di Kabupaten Merauke menjadi pijakan baru untuk menegakkan kedaulatan pangan nasional dan merekatkan persatuan bangsa.
Dosen Analisis Kimia Sekolah Vokasi IPB University, Dr. Tekad Urip Pambudi Sujarnoko, S.Pt., M.Si., menilai nilai perlawanan Pangeran Diponegoro era 1825–1830 bukan sekadar konflik politik melawan penjajah. Pergerakan tersebut lahir sebagai panggilan moral untuk menentang ketidakadilan struktural dan perampasan tanah rakyat.
“Semangat Perang Jawa yang digerakkan oleh Pangeran Diponegoro pada hakikatnya bukan sekadar konflik politik melawan VOC, melainkan sebuah perang sabil: perjuangan suci untuk menegakkan keadilan, kedaulatan, dan martabat manusia, ” ujarnya.
Sujarnoko menjelaskan bahwa perlawanan merebut kedaulatan tanah di masa lalu memiliki jaringan sejarah yang saling terhubung di seluruh Nusantara. Mulai dari perjuangan Tuanku Imam Bonjol pada Perang Padri (1803–1837), perlawanan Karaeng Galesong di Sulawesi, pergerakan Pangeran Antasari di Banjar, tradisi Puputan di Bali dan Lombok, hingga kegigihan pahlawan Papua seperti Frans Kaisiepo, Silas Papare, Marthen Indey, serta Johanes Abraham Dimara.
Memasuki era modern, medan perjuangan untuk mempertahankan martabat tanah bertransformasi ke kawasan transmigrasi Salor, Merauke. Di wilayah yang menjadi ruang hidup masyarakat adat Anim Ha ini, pendekatan berbasis agroekologi diterapkan dengan memperhitungkan kesesuaian lahan, air, topografi, dan kearifan budaya bertani lokal.
“Jika dahulu tanah dipertahankan dari perampasan kolonial, maka hari ini tanah dikelola secara berdaulat melalui pemetaan wilayah berbasis komoditas, ” tegas Sujarnoko.
Bagi Sujarnoko, integrasi kearifan lokal suku Anim Ha dengan pengelolaan wilayah yang tertata menjadi bentuk nyata dari jihad pembangunan. Upaya ini memperkuat benteng ekonomi rakyat sekaligus merawat persatuan sosial di garis terdepan Indonesia.
“Dari perang sabil melawan penjajahan, menuju perang sabil pembangunan demi persatuan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, ” pungkas Sujarnoko. (Rizki)




