Merauke – Kabarlagi.id. Ratusan perwakilan organisasi Islam di seluruh Papua Selatan memadati Masjid Raya Al Aqsha Merauke untuk menggelar Dzikir dan Doa Kebangsaan pada Minggu, (16/8/26). Acara ini menjadi momentum refleksi spiritual sekaligus rasa syukur kolektif dalam menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-81.
Gema istigotsah membuka rangkaian acara yang juga dihadiri oleh Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo, Bupati Merauke Yoseph B. Gebze, Wakil Bupati Merauke Fauzun Nihayah, serta jajaran Forkopimda. Suasana khidmat terasa kental saat sholawat dikumandangkan dalam bahasa lokal Marind, memadukan identitas budaya dengan nilai-nilai religi.
Ketua PWNU Papua Selatan, KH Mohamad Arifin mengungkapkan bahwa pertemuan ini memiliki makna ganda bagi umat Islam di wilayah tersebut.
“Menyambut bulan kelahiran Nabi Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sekaligus ulang tahun Republik Indonesia yang ke-81,” tutur Arifin.
Ia lantas mengajak seluruh jemaah yang hadir untuk mendoakan keberlangsungan pembangunan dan kedamaian di provinsi baru tersebut.
“Mari kita langsung membaca doa untuk acara tausiyah kebangsaan sekaligus mendoakan untuk Merauke juga Papua Selatan. Semoga dengan adanya maulidur rasul sekaligus HUT RI, Allah memberikan ketentraman, ketenangan, dan membuat kita semua yang hadir di tempat ini selalu mendapatkan rahmat dari Allah,” lanjutnya.
Arifin juga menyelipkan harapan agar wilayah paling timur Indonesia ini menjadi daerah yang diberkahi.
“Kita jadikan negara kita, khususnya Papua Selatan, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Provinsi yang gemah ripah loh jinawi dan selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa dan selalu diampuni segala dosanya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” harap Arifin.
Senada dengan itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua Selatan, H. Abdul Awal Gebze, mengingatkan kembali peran historis para ulama dalam kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, perjuangan masa lalu adalah jihad untuk memastikan rakyat bisa beribadah dengan tenang.
“Para ulama mulai dari ujung barat dari Sabang sampai ke Merauke, semua itu adalah para ulama yang memperjuangkan kemerdekaan negara Republik Indonesia. Di sinilah mengapa para ulama ini datang betul-betul jihad fisabilillah memperjuangkan kemerdekaan,” tegas Abdul Awal saat memimpin doa bersama.
Ia juga menekankan adanya pembagian tugas yang jelas antara ulama dan umara (pemerintah) dalam menjaga tiga pilar utama: spiritualitas, kesejahteraan, dan keamanan.
“Tugas kami para ulama adalah bagaimana rakyat Indonesia ini bebas di dalam melaksanakan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bagaimana masjid-masjid dan rumah ibadah ramai dikunjungi oleh umat,” jelasnya.
Namun, ia memberikan catatan keras terkait tanggung jawab kesejahteraan yang diemban para pemimpin daerah.
“Tugas yang kedua adalah bagaimana rakyat ini bisa cukup sandang pangan dan papan. Itu tugasnya pak gubernur, tugasnya pak bupati, ibu wakil bupati. Kalaupun satu keluarga di Provinsi Papua Selatan ini malam ini lapar, pak gubernur, pak bupati, ibu wakil bupati dan jajarannya diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” pungkas Ketua MUI tersebut.
Bupati Merauke, Yoseph B. Gebze, merespons pesan tersebut dengan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat ikatan sosial. Ia menitipkan pesan agar para tokoh agama terus bergandengan tangan dengan pemerintah.
“Dalam kebersamaan kita sebagai warga negara dan warga bangsa, saya menitip pesan kepada para tokoh, alim ulama, dan kita semua yang hadir untuk mari kita bergandengan tangan menjaga agar daerah kita selalu menjadi rumah kita bersama, harus menjadi tempat yang paling aman bagi kita semua,” ujar Yoseph.
Sebagai penutup, Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo menyampaikan pesan kemerdekaan bertajuk “Papua Selatan Maju Negeriku”. Ia mengajak masyarakat untuk sejenak melepas beban hidup dan mensyukuri kemerdekaan dengan cara saling membantu antar sesama.
“Kita hadir di dunia ini untuk saling membantu orang lain. Kalau kita mampu untuk membantu banyak orang, maka kita bantu banyak orang. Tapi kalau belum mampu membantu banyak orang, maka kita bantu beberapa orang. Kalau belum mampu membantu satu orang, maka jangan kita menyusahkan orang lain,” papar Apolo.
Gubernur juga memberikan pesan mendalam mengenai etika berkomunikasi dalam menjaga kerukunan di Papua Selatan.
“Jangan kita saling menyakiti dan jangan kita saling melukai, apalagi melukai hati dan perasaan orang. Luka di dalam tubuh kita itu dapat disembuhkan. Tetapi luka yang disebabkan oleh mulut kita itu tidak dapat disembuhkan. Oleh karena itu, kita harus senantiasa menjaga lisan kita,” pesan Apolo.
Ia menambahkan bahwa kualitas kata-kata yang keluar dari lisan seseorang adalah cerminan dari kondisi hatinya.
“Kata-kata yang keluar dari mulut kita mencerminkan apa yang ada di dalam hati kita. Kalau hati kita bersih, tulus, dan ikhlas, maka kata-kata yang keluar adalah kata-kata yang santun, etis, dan sopan,” pungkasnya. (Rizki)




