Oleh : Syamsul Arifin (Masdjo) -Founder Budayantara Media Digital Nusantara-

Jakarta — Kabarlagi.id Budaya Betawi tidak semestinya berhenti sebagai pertunjukan di atas panggung, pakaian adat yang dikenakan saat seremoni, atau sekadar kemeriahan festival budaya. Di balik lenong, gambang kromong, palang pintu, ondel-ondel, kuliner, bahasa, dan berbagai tradisi Betawi, tersimpan nilai-nilai kehidupan yang relevan untuk terus diwariskan kepada generasi muda.

Karena itu, arah peran pemuda Betawi hari ini menjadi semakin penting. Tantangannya bukan hanya bagaimana membuat budaya tetap terlihat, tetapi bagaimana memastikan nilai budaya tetap hidup dalam perilaku sehari-hari.

Budaya Sebagai Tuntunan Hidup

Budaya pada hakikatnya bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan.

Di dalam kehidupan masyarakat Betawi, terdapat nilai-nilai seperti menghormati orang tua, menjaga silaturahmi, hidup guyub, menghargai tetangga, menjunjung sopan santun, serta memiliki kepedulian terhadap sesama.

Nilai-nilai tersebut sebenarnya sangat sederhana. Namun, justru dari hal-hal sederhana itulah karakter sebuah masyarakat dibangun.

Pemuda Betawi perlu melihat budaya bukan sebagai sesuatu yang kuno atau hanya milik generasi terdahulu. Sebaliknya, budaya dapat menjadi kompas moral untuk menghadapi kehidupan modern yang bergerak begitu cepat.

Di tengah era digital, ketika anak muda dapat mengetahui berbagai budaya dunia hanya melalui layar telepon, pertanyaan pentingnya bukan lagi “Apakah budaya Betawi masih ada?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apakah nilai-nilai Betawi masih hidup dalam diri generasi mudanya?”

Sebab, budaya bisa tetap dipertontonkan, tetapi kehilangan makna apabila nilai yang terkandung di dalamnya tidak lagi dipraktikkan.

Menjadi Tuan Rumah di Kota Sendiri

Jakarta terus berubah. Gedung-gedung tumbuh, kawasan berkembang, masyarakat datang dari berbagai daerah dan negara. Jakarta menjadi kota yang semakin terbuka dan dinamis.

Dalam perubahan tersebut, pemuda Betawi tidak perlu takut terhadap modernisasi. Justru generasi muda harus mampu menjadi bagian dari perubahan tanpa kehilangan akar identitasnya.

Menjadi tuan rumah di kota sendiri bukan berarti menutup diri dari siapa pun.

Sebaliknya, menjadi tuan rumah berarti mampu menyambut siapa saja dengan keramahan, sekaligus tetap mengenal siapa diri kita.

Pemuda Betawi harus mampu berkata dengan percaya diri:

“Kami terbuka terhadap dunia, tetapi kami tidak kehilangan jati diri.”

Kearifan lokal bukan penghalang kemajuan. Identitas budaya justru dapat menjadi kekuatan ketika dikemas dengan kreativitas, teknologi, pendidikan, ekonomi kreatif, pariwisata, media digital, hingga industri hiburan.

Jangan Hanya Bangga Saat Festival

Ada ironi yang sering terjadi. Kita begitu bangga ketika budaya Betawi tampil dalam sebuah festival. Kita bertepuk tangan ketika tarian Betawi dipentaskan. Kita bangga ketika kuliner tradisional kembali populer.

Namun, setelah acara selesai, nilai-nilai tersebut terkadang kembali ditinggalkan.

Padahal, pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan dengan acara besar.

Menggunakan bahasa yang santun kepada orang tua, menghormati tetangga, menjaga lingkungan, membantu sesama, merawat silaturahmi dan tidak melupakan asal-usul semua itu juga merupakan bentuk nyata menjaga budaya.

Budaya hidup bukan karena sering dipamerkan, tetapi karena terus diamalkan.

Pemuda Adalah Jembatan Masa Lalu dan Masa Depan

Generasi muda memiliki posisi strategis. Mereka berada di antara dua dunia: menerima warisan dari generasi sebelumnya dan sekaligus menjadi penentu wajah budaya pada masa depan.

Karena itu, tugas pemuda bukan sekadar menjadi penjaga tradisi, tetapi juga menjadi inovator budaya.

Tradisi boleh diwariskan, tetapi cara menyampaikannya dapat berubah.

Cerita Betawi bisa masuk ke media sosial. Sejarah kampung bisa dikemas menjadi film pendek. Musik tradisional bisa berkolaborasi dengan musik modern. Kuliner Betawi dapat dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif. Bahasa dan cerita rakyat dapat diperkenalkan melalui konten digital yang dekat dengan anak muda.

Dengan demikian, budaya tidak menjadi benda museum yang hanya dikenang, tetapi menjadi bagian dari kehidupan yang terus bergerak.

Dari Kebanggaan Menjadi Tanggung Jawab

Menjadi anak muda Betawi bukan hanya tentang memiliki kebanggaan terhadap identitas. Lebih dari itu, ada tanggung jawab untuk memastikan identitas tersebut tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.

Pemuda harus menjadi generasi yang berakar tetapi tidak terbelenggu, terbuka tetapi tidak kehilangan arah, modern tetapi tetap mengenal asal-usul.

Sebab Jakarta boleh berubah.
Zaman boleh berganti.
Teknologi boleh berkembang.

Tetapi selama nilai-nilai kebaikan, gotong royong, keramahan, penghormatan dan kearifan lokal tetap hidup dalam perilaku generasinya, budaya Betawi tidak akan pernah benar-benar hilang.

Pada akhirnya, menjaga budaya bukan hanya tentang mempertahankan apa yang diwariskan leluhur.

Menjaga budaya adalah tentang memastikan generasi berikutnya masih memiliki sesuatu yang layak diwariskan.**