MERAUKE – Kabarlagi.id. Gerakan mahasiswa di ujung timur Indonesia semakin dinamis. Merespons besarnya potensi sumber daya manusia (SDM) dari etnis Jawa, Sunda, dan Madura, sejumlah mahasiswa kini tengah mempersiapkan pembentukan Himpunan Mahasiswa Jawa Sunda Madura (Hima JSM). Langkah strategis ini mendapat lampu hijau langsung dari Wakil Bupati Merauke, Dr. Fauzun Nihayah, S.H.I., M.H., usai pertemuan intensif di ruang kerjanya, Rabu (04/02/2026).
Ketua Tim Formatur Hima JSM, Adi Prasetyo, mengungkapkan bahwa inisiasi ini lahir dari pembacaan peluang yang cermat. Dominasi kuantitas mahasiswa dari ketiga etnis tersebut di berbagai perguruan tinggi di Merauke, baik negeri maupun swasta, dinilai perlu dikelola dalam satu wadah yang terorganisir agar kontribusinya bagi daerah lebih terukur dan tidak tercerai-berai.
“Gagasan-gagasan itu idealnya dimotori oleh teman-teman intelektual. Kami ingin ada wadah yang menyalurkan aspirasi kepada pemangku kepentingan, tentunya stakeholder terkait,” tegas Adi Prasetyo saat diwawancarai Kabarlagi.id, Jumat (06/02/2026).
Organisasi ini tidak akan berdiri liar, melainkan diproyeksikan sebagai Badan Otonom (Banom) dari Himpunan Kerukunan Jawa Sunda Madura (HKJSM) yang kini dipimpin oleh Fauzun Nihayah. Respons positif pun mengalir deras. Wakil Bupati menyambut antusias kehadiran entitas baru ini sebagai perpanjangan tangan HKJSM untuk merangkul segmen akademisi muda secara spesifik.
Dalam audiensi sebelumnya, Fauzun menegaskan bahwa mahasiswa memegang peran vital sebagai mitra pemerintah. Ia membuka ruang dialog seluas-luasnya bagi ide-ide segar yang adaptif terhadap perkembangan zaman, mulai dari ekonomi kreatif hingga inovasi digital.
“Pemerintah daerah terbuka terhadap gagasan yang konstruktif, khususnya dari kalangan muda, karena ide-ide tersebut dapat menjadi dasar lahirnya langkah nyata untuk memajukan Merauke,” tutur Dr. Fauzun Nihayah.
Ke depan, Hima JSM bertekad tidak menjadi organisasi yang eksklusif, melainkan inklusif dan kolaboratif. Sinergi dengan organisasi kepemudaan (OKP) lain dan media akan menjadi prioritas utama. Hal ini dilakukan demi memastikan peran mahasiswa sebagai agent of change benar-benar berdampak nyata bagi percepatan pembangunan di Tanah Anim Ha. (rizki)

