Lesbumi Jakarta Gelar Perdana “Ngaji Budaya”: Membaca Warisan Pendiri Lewat Film dan Seni
News

Lesbumi Jakarta Gelar Perdana “Ngaji Budaya”: Membaca Warisan Pendiri Lewat Film dan Seni

Jakarta, — Kabarlagi.id  Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Jakarta menggelar acara perdana bertajuk Ngaji Budaya dan Diskusi di Kantor PWNU II, Cilandak, Jakarta Selatan, Minggu (10/8/2025). Forum ini merupakan ruang terbuka yang memadukan diskusi keislaman dengan ekspresi seni dan budaya, menandai sebuah inisiatif baru dalam menyemai nilai-nilai Islam melalui pendekatan kebudayaan.

Kegiatan ini diisi dengan pemutaran film karya pendiri Lesbumi “Tauhid”, diskusi terbuka, pembacaan puisi, serta penampilan kesenian lokal bernuansa Islami. Acara dibuka dengan sambutan oleh Ketua Lesbumi Jakarta, H. Ahmad Yusuf, yang kemudian dilanjutkan dengan laporan dari Ketua Pelaksana, Adipatilawe.

Mengangkat tema Membaca Pendiri Lesbumi, acara ini menghadirkan sejumlah tokoh penting, baik dari kalangan ulama, budayawan, maupun akademisi. Ketua Lesbumi PBNU, KH M. Jadul Maula, dalam sambutannya menggaris bawahi bahwa seni dan budaya telah menjadi sarana dakwah yang hidup dalam sejarah Islam di Nusantara.

“Film adalah bentuk modern dari ekspresi budaya. Di masa lalu, dakwah Islam dilakukan melalui seni yang menciptakan identitasnya sendiri. Inilah yang digagas oleh para pendiri Lesbumi—Usmar Ismail, Asrul Sani, dan Jamaluddin Malik—yang membangun pondasi kebudayaan melalui karya film yang berkarakter,” tutur KH Jadul.

Diskusi juga dihadiri oleh Sekretaris PWNU DKI Jakarta, KH Bahauddin (Gus Baha), Wakil Sekretaris PWNU DKI Jakarta, Emka Farah Mumtaz, serta perwakilan dari Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Selatan. Kepala Sinematek Indonesia, Akhlis Suryapati, turut memberikan pandangan dalam forum ini, khususnya terkait peran film dalam membentuk narasi budaya Islam Indonesia.

Kehadiran keluarga pendiri Lesbumi memberikan nuansa emosional tersendiri dalam forum ini. Istri mendiang Asrul Sani, Mutiara Sani, serta Heidy Hermia Ismail, putri dari Usmar Ismail, hadir sebagai saksi sejarah atas warisan intelektual dan kebudayaan yang diwariskan para pendiri.

“Acara ini bukan hanya mengenang, tapi juga merayakan semangat mereka yang menjadikan seni sebagai jalan dakwah dan peradaban,” ujar Emka Farah Mumtaz.

Ngaji Budaya dijadwalkan menjadi forum rutin yang terbuka untuk publik, dengan harapan menjadi wadah regenerasi intelektual dan kultural di kalangan muda Nahdliyin, serta menjembatani dialog antara agama dan budaya secara konstruktif.(,Djo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *