Papua Selatan Gempur Gizi Buruk Balita Lewat Pangan Lokal
Goverment

Papua Selatan Gempur Gizi Buruk Balita Lewat Pangan Lokal

Merauke – Kabarlagi.id. Pemerintah Provinsi Papua Selatan mengambil langkah agresif untuk menekan angka gizi buruk dan stunting pada balita. Melalui kolaborasi lintas sektor, pemerintah kini memfokuskan strategi pada perubahan pola makan masyarakat desa dan optimalisasi hasil alam lokal sebagai senjata utama.

Langkah strategis ini mengemuka dalam orientasi tata laksana dan sosialisasi standar produk pangan terapi gizi yang digelar di Hotel Corein. Mewakili Gubernur Apolo Safanpo, Asisten I Setda Papua Selatan Bidang Pemerintahan dan Kesra, Agustinus Joko Guritno, menyoroti urgensi penanganan masalah kesehatan yang berakar kuat dari kebiasaan sehari-hari.

“Karena ini ada hubungan erat dengan stunting, ini merupakan isu nasional yang belum berakhir sampe hari ini,” ungkap Agustinus Joko Guritno di Merauke, Selasa, (10/03/2026).

Guritno memaparkan sebuah ironi yang kerap ditemui para tenaga kesehatan di lapangan. Tanah Papua sejatinya menyimpan kekayaan pangan lokal yang melimpah, mulai dari ikan, daging, sayur-mayur, sagu, hingga buah-buahan. Namun, tingginya ketersediaan sumber protein dan serat ini belum berbanding lurus dengan status gizi balita. Kendala utama terletak pada minimnya pengetahuan masyarakat dalam mengelola bahan pangan tersebut.

Pola hidup di kawasan pedalaman menjadi tantangan tersendiri. Tingginya intensitas waktu yang dihabiskan warga untuk berkebun dan meramu sagu membuat rutinitas makan sering kali hanya terjadi satu kali dalam sehari. Pengolahan makanan pun cenderung monoton, sebatas direbus atau dibakar, tanpa memastikan kelengkapan asupan gizi yang dibutuhkan anak pada masa pertumbuhan.

“Bagi tenaga kesehatan yang pernah bertugas di kampung-kampung sudah pasti tau persis bagaimana pola hidup masyarakat,” jelas Guritno menyoroti realitas di lapangan.

Lebih jauh, persoalan malnutrisi di Papua Selatan rupanya tidak berdiri sendiri. Faktor sanitasi dasar turut memperburuk kondisi kesehatan warga. Banyak permukiman yang belum memiliki fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) memadai. Di sisi lain, kebiasaan tidur di dekat tungku api selama bertahun-tahun di dalam rumah berpotensi memicu penyakit pernapasan yang semakin menguras daya tahan tubuh anak.

Menyadari kompleksitas masalah dan keterbatasan pemerintah, Asisten I Setda ini mengapresiasi keterlibatan Universitas Cenderawasih (Uncen) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF). Sinergi ini ditujukan untuk membekali Aparatur Sipil Negara (ASN) dan tenaga kesehatan agar mampu melakukan intervensi gizi secara menyeluruh.

Ia meminta para pelayan publik untuk turun langsung menjadi pelopor pembangunan, tidak sekadar mengobati, tetapi juga mengubah tata cara hidup warga desa.

“Oleh sebab itu, kita harus menyampaikan kepada masyarakat secara komprehensif, dari mulai bangun pagi sampai tidur kita harus memberikan informasi yang benar kepada mereka,” tegas Guritno menutup arahan bagi para garda terdepan kesehatan di wilayah tersebut (Rizki)

administrator
Jurnalis, Videografer & Founder Klik Ternak. 2+ thn pengalaman menyatukan teknologi & visual storytelling demi edukasi peternakan yang inspiratif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *