Merauke – Kabarlagi.id. Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo mengajak lembaga pendidikan keagamaan mengambil peran sentral dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul. Harapan tersebut disampaikannya saat menghadiri peringatan hari ulang tahun ke-20 Pesantren DDI Al-Munawwaroh pada Minggu (14/6/2026).
Dalam arahannya, Apolo menekankan bahwa keberlanjutan pembangunan daerah sepenuhnya berada di tangan para penerus bangsa. Ia mengapresiasi dedikasi pengurus pesantren yang terus mengabdi mendidik anak-anak di wilayah tersebut.
“Mari bersama-sama kita persiapkan anak-anak didik kita, generasi masa depan Papua Selatan, tidak hanya menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga agung secara moral,” ucap Apolo di hadapan para hadirin.
Kepala daerah ini kemudian menyoroti pesatnya perkembangan zaman dari masa ke masa. Ia memaparkan bagaimana dunia bergerak mulai dari penemuan mesin uap pada 1780, sistem produksi massal pada 1870, otomasi elektronik pada 1954, hingga era digital di awal tahun 2000.
“Jika kita menengok catatan sejarah, para ilmuwan meyakini bahwa perubahan peradaban manusia terjadi secara radikal setiap satu abad sekali,” jelasnya.
Kini, masyarakat dunia tengah menghadapi tantangan baru yang menuntut kemampuan adaptasi tinggi. Kehidupan global semakin terintegrasi, di mana peristiwa di satu belahan bumi akan langsung memberikan dampak sistemik bagi wilayah lainnya.
“Hari ini, kita sedang melangkah masuk ke dalam era baru, yaitu Era Algoritma. Sebuah era di mana seluruh sistem dunia menyatu secara global,” tambahnya.
Menghadapi peradaban yang berubah secara masif, lembaga pendidikan agama dinilai memiliki khitah mulia. Jika sekolah umum berfokus mengejar pengetahuan dan keterampilan, pesantren justru menempatkan pendidikan nilai sebagai prioritas utama. Langkah ini bertujuan menanamkan kejujuran, keadilan, serta kedisiplinan di tengah arus modernisasi yang kerap mengesampingkan porsi moralitas.
“Saya berpesan kepada seluruh pelaku pendidikan termasuk DDI untuk tetap mempertahankan dan memperkuat aspek pendidikan nilai-nilai kemanusiaan universal dalam kurikulum pembelajarannya,” tegas Apolo.
Sebagai pengingat, ia mengutip prinsip dari tokoh dunia Nelson Mandela mengenai peran sentral manusia di balik kemajuan peradaban.
“The most important thing is not the gun, but the man behind the gun.“
Apolo menjabarkan bahwa teknologi di tangan individu yang berbudi pekerti akan membawa kemaslahatan, sebaliknya jika dikendalikan oleh tangan tanpa karakter justru berpotensi memicu kehancuran. Menutup rangkaian kegiatan tersebut, ia mewujudkan komitmen nyata pemerintah dengan menyerahkan bantuan dana senilai Rp100 juta yang diperuntukkan bagi kelancaran pembangunan fasilitas Pondok Pesantren Al-Munawaroh. (Rizki)




