Merauke – Kabarlagi.id. Wakil Gubernur Papua Selatan Paskalis Imadawa mengapresiasi langkah warga Kampung Waninggap Say Distrik Tanah Miring dalam merawat tradisi Nusantara. Apresiasi ini disampaikan langsung saat ia menghadiri pagelaran wayang kulit yang digelar di balai kampung setempat pada Minggu (14/6/2026) malam.
Rangkaian acara budaya tersebut bermula dengan penyerahan tokoh pewayangan kepada Dalang Ki Toto Handoko yang didatangkan khusus dari Jayapura. Paskalis menilai inisiatif masyarakat tidak sekadar merawat warisan bangsa, melainkan menjadi wadah yang efektif untuk mempererat tali persaudaraan serta kerukunan antarwarga di wilayah Papua Selatan.
Di tengah antusiasme penonton yang memadati lokasi pertunjukan, Paskalis mengambil momentum tersebut untuk menyelipkan pesan moral terkait rasa syukur. Ia secara khusus menyoroti pentingnya menghargai makanan sebagai wujud penghormatan terhadap berkat Sang Pencipta.
“Ketika makan nasi, jangan sampai ada yang terbuang. Jangan sebutir pun dibuang,” kata Paskalis.
Ia menekankan bahwa pemahaman ini harus diajarkan sejak dini di lingkungan keluarga.
“Nasihatkan anak-anak kita bahwa nasi adalah simbol tertinggi dari kekayaan dan kehidupan yang Tuhan berikan kepada kita,” ujar Paskalis.
Menurutnya, kebiasaan mengambil hidangan secukupnya harus mulai diterapkan agar tidak ada sisa pangan yang mubazir. Hal ini sekaligus menjadi bentuk penghargaan nyata atas keringat para petani yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.
“Kalau makan sedikit, ambil sedikit. Kalau makan banyak, ambil sesuai kebutuhan. Yang penting jangan ada yang terbuang,”kata dia.
“Mari kita ajarkan kepada generasi muda untuk menghargai setiap butir nasi sebagai hasil kerja keras dan berkat Tuhan yang harus disyukuri,” ujarnya.
Lebih jauh, Paskalis mengaitkan pesan kehidupan tersebut dengan tokoh Dewi Sri yang diangkat dalam lakon pewayangan malam itu. Ia menjelaskan bahwa sosok tersebut merupakan representasi dari kemakmuran, kesuburan, sekaligus kekayaan alam yang wajib dirawat bersama.
“Malam ini kita menerima simbol Dewi Sri. Kisah dan maknanya mengajarkan kita untuk menjaga kekayaan yang telah Tuhan percayakan kepada kita,” kata dia.
“Semoga simbol ini dijaga dengan baik, dan kekayaan yang kita miliki juga dijaga dengan baik untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar Paskalis.
Pagelaran seni tradisional ini terus berlangsung dalam balutan kebersamaan. Antusiasme masyarakat tetap bertahan menyaksikan kepiawaian sang dalang hingga seluruh rangkaian acara tuntas. (Rizki)




