Merauke – Kabarlagi.id. Pemerintah Provinsi Papua Selatan menuntut seluruh perguruan tinggi di wilayahnya untuk segera membenahi tiga pilar utama pendidikan. Peningkatan kapasitas dosen, penguatan kualitas pembelajaran, serta pencetakan lulusan kompeten menjadi syarat mutlak agar kampus lokal mampu bertahan di tengah arus kompetisi.
Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo menyampaikan dorongan tersebut saat menghadiri wisuda Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Yamra di MBS Hotel Merauke, Selasa (16/6/2026). Ia mengingatkan bahwa persaingan dunia pendidikan kini makin terbuka dan tidak mengenal batas wilayah.
“Apabila perguruan tinggi tidak terus meningkatkan kapasitas dosen, memperkuat kualitas pembelajaran, dan menghasilkan lulusan yang kompeten, maka kita akan tertinggal dalam persaingan yang semakin ketat di tingkat nasional maupun global,” kata Apolo.
Menghadapi tantangan besar tersebut, Apolo menekankan bahwa pemangku kepentingan tidak boleh hanya berfokus pada angka kelulusan. Lembaga akademik harus berfungsi sebagai ruang utama untuk mencetak mental generasi muda sejalan dengan cita-cita negara.
“Sesungguhnya tujuan pendidikan nasional pada hakikatnya adalah membentuk manusia Indonesia yang utuh,” ujarnya.
Konsep manusia utuh yang dimaksud mensyaratkan perpaduan kuat antara kecerdasan intelektual dengan nilai-nilai kemanusiaan. Karakter dasar seperti tanggung jawab, kejujuran, kedisiplinan, keadilan, dan toleransi harus melekat dalam keseharian setiap individu.
“Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban bangsa yang maju,” tegasnya.
Gubernur kemudian mengajak seluruh pihak untuk merefleksikan kembali peran institusi pendidikan sebagai kawah candradimuka pembentukan akhlak mulia, bukan sekadar tempat transfer ilmu pengetahuan.
“Coba kita renungkan bersama. Seseorang mungkin memiliki ilmu yang tinggi, pendidikan yang hebat, dan keterampilan yang luar biasa. Namun ia tidak jujur, tidak disiplin, tidak adil, serta tidak menghargai orang lain, maka sesungguhnya ia belum menjadi manusia yang utuh,” ujarnya.
Sebaliknya, seseorang dengan akhlak dan kepribadian terpuji juga tetap membutuhkan bekal keterampilan agar mampu menjawab kebutuhan zaman. Karenanya, penguasaan ilmu pengetahuan dan penanaman karakter merupakan dua kutub yang wajib berjalan beriringan.
“Inilah sebabnya mengapa dalam setiap proses pendidikan, unsur pembentukan nilai, moral, etika, dan karakter tidak boleh diabaikan,” imbuhnya.
Mengakhiri arahannya, Apolo menegaskan bahwa kekuatan bangsa sedari dulu selalu bersandar pada warisan moral yang hidup dan mengakar dalam budaya masyarakat. Ia optimis pelestarian budaya luhur melalui jalur akademis akan membawa dampak panjang bagi pembangunan daerah.
“Apabila nilai-nilai tersebut terus dijaga dan diwariskan melalui pendidikan, maka kita akan mampu melahirkan generasi Indonesia yang cerdas, berdaya saing, berakhlak mulia, serta siap menghadapi tantangan masa depan,” pungkasnya. (Rizki)




