Jakarta – Kabarlagi.id. Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini memayungi 282,7 juta jiwa atau setara dengan 98,62 persen total penduduk Indonesia hingga akhir Desember 2025. Pencapaian ini mengukuhkan Program JKN sebagai fondasi utama dalam mencetak sumber daya manusia yang sehat dan berdaya saing di tengah tantangan ekonomi global.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengungkapkan bahwa lebih dari satu dekade berjalan, JKN telah bertransformasi bukan sekadar sebagai penjamin biaya medis, melainkan penggerak produktivitas bangsa. Hal itu ia sampaikan dalam Public Expose Laporan Pengelolaan Program dan Laporan Keuangan BPJS Kesehatan Tahun 2025 di Jakarta, Kamis, (02/07/2026).
“Program JKN bukan sekadar memberikan jaminan pembiayaan pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi fondasi bagi terciptanya SDM Indonesia yang sehat, produktif, dan berdaya saing. Ketika masyarakat memperoleh akses layanan kesehatan yang berkualitas tanpa terbebani biaya yang besar, mereka dapat terus berkarya, ” ujar Pujo.
Masifnya jumlah peserta diikuti dengan tingginya angka pemanfaatan layanan. Sepanjang 2025, tercatat ada 725,3 juta pemanfaatan layanan kesehatan atau rata-rata 1,9 juta pemanfaatan setiap harinya. Pujo menilai angka ini sebagai cermin tingginya kepercayaan publik terhadap sistem jaminan kesehatan negara.
Keandalan layanan ini didukung oleh jaringan yang luas, mencakup 23.770 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan 3.194 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) di seluruh Indonesia.
Dari sisi finansial, BPJS Kesehatan mencatatkan kondisi keuangan yang sehat dan akuntabel. Aset bersih Dana Jaminan Sosial (DJS) Kesehatan berada di angka Rp30,04 triliun, yang cukup untuk memenuhi estimasi klaim selama 1,88 bulan ke depan.
“BPJS Kesehatan kembali memperoleh opini Wajar Tanpa Modifikasi (WTM) dari Kantor Akuntan Publik untuk ke-12 kalinya secara berturut-turut. Hasil investasi Dana Jaminan Sosial Kesehatan mencapai Rp3,94 triliun, mencerminkan pengelolaan dana yang dilakukan secara hati-hati, ” terang Pujo.
Namun, tantangan besar tetap membayangi. Biaya pelayanan kesehatan sepanjang 2025 menembus Rp191,3 triliun. Ironisnya, sebanyak 26,42 persen dari total biaya tersebut terserap untuk penanganan penyakit katastropik yang sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini dan pola hidup sehat.
Ketua Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, Stevanus Adrianto Passat, menegaskan pihaknya memikul amanah besar dalam mengelola dana publik dari peserta dan pemberi kerja.
“Terdapat berbagai tantangan ke depan yang perlu dihadapi bersama, khususnya dalam menjaga keberlanjutan finansial Program JKN, meningkatkan kualitas layanan, memperluas kepesertaan aktif, dan memperkuat kolaborasi,” ucap Stevanus.
Senada dengan itu, Guru Besar FEB Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, mengingatkan bahwa pembiayaan kesehatan tidak boleh dianggap sebagai beban anggaran semata.
“Pembiayaan kesehatan tidak dapat dipandang sebagai beban semata, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun modal manusia yang sehat, meningkatkan produktivitas, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkas Telisa. (Rizki)




