Jakarta,– Kabarlagi.id Bulan suci Ramadan dapat menjadi momentum penguatan solidaritas sosial melalui berbagai aksi kemanusiaan. Seperti pembagian sembako, santunan anak yatim, dan aksi sosial lainnya guna membantu masyarakat prasejahtera.
Hal ini antara lain yang dilakukan Ketua Umum KSBN (Komite Seni Budaya Nusantara) Mayjen TNI (Purn) Drs. Hendardji Soepandji, S.H., selama 28 tahun tanpa henti.
“Sudah berjalan selama 28 tahun. Bantuan kemanusiaan ini kami berikan kepada fakir miskin dan duafa yang tersebar di lima wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya,” terang Hendardji Soepandji kepada wartawan tentang kegiatan kemanusiaan yang dilakukan bersama keluarganya.

Konsep khafiyyah; Memilih Jalan Sunyi
28 tahun menjalankan aktivitas kemanusian bukan waktu yang pendek. Namun Hendardji memilih jalan sunyi. Sedekah yang merujuk pada konsep khafiyyah; sembunyi-sembunyi.
Bagi Hendardji memberi adalah perwujudan cinta. Jalan sunyi dipilih agar cinta tersebut murni, hanya antara hamba dan Pencipta tanpa gangguan pamrih.
Menurut Hendardji, praktik keagamaan seharusnya tidak sekadar ritual transendental, tetapi diwujudkan dalam bentuk kesalehan sosial.
“Praktik nyata membantu sesama, menolong orang,” ujarnya lugas.
Esensi agama, lanjutnya, memanusiakan manusia. Mahabbah (cinta kepada Allah SWT) yang diwujudkan melalui cinta kepada sesama manusia dan alam semesta.
“Melayani kemanusiaan, adalah bentuk ibadah tertinggi,” tegas Hendardji lagi.
Hendardji Soepandji bersama keluarganya juga banyak membantu para seniman dan penggiat budaya dari segi ekonomi dan kesejahteraan yang sangat krusial.
Tidak hanya untuk keberlangsungan hidup seniman, tetapi juga bagi perkembangan budaya, dan identitas bangsa. Diantaranya melalui organisasi yang didirikannya Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN).
Santuni Penggiat Wayang Orang (WO) Bharata
Momentum Ramadan tahun ini, Hendardji membagikan 150 bingkisan lebaran dalam bentuk sembako untuk para seniman tradisi penggiat Wayang Orang (WO) Bharata, yang tinggal di kawasan Sunter Agung Jakarta Utara, Jumat (13/03/2026).
Hadir pada saat acara pembagian sembako tersebut, dr. Ratna Rosita Hendardji selaku tuan rumah, serta Ir. Enny S. Sardiyarso, MS (Staf Ahli dan Mantan Sekretaris Jenderal DPP-KSBN), Hartatie Amar, SE, MM (Anggota Bidang Dana DPP-KSBN), Drs. Teguh Ampiranto (Ketua Bidang Seni Wayang DPP KSBN), dan pengurus DPP-KSBN lainnya.
Sebelumnya Hendardji juga menyantuni 100 pemulung anak, pengamen anak, dan anak-anak jalanan binaan Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan di Kranggan Permai Jatisampurna Kota Bekasi, Jumat (06/03/2026). Sebagian dari anak-anak kategori terlantar tersebut merupakan yatim-piatu.
Agama dan Budaya Entitas Saling Melengkapi
Menurut Hendardji, agama dan budaya dalam perspektif kemanusiaan adalah dua entitas saling melengkapi. Agama menyediakan nilai-nilai transendental universal, sementara budaya menjadi wadah ekspresi sosial.
Hendardji juga menegaskan, bantuan kemanusiaan bukan sekadar aktivitas teknis penyaluran logistik, melainkan sebuah wadah strategis untuk menanamkan etika, moralitas, dan spirit keagamaan.
“Nilai keagamaan diterjemahkan menjadi aksi sosial yang inklusif. Menekankan kasih sayang dan solidaritas sosial sesuai tujuan utama agama untuk pencerahan kemanusiaan,” ujarnya.
Kerentanan Ekonomi Para Seniman
Seniman, kata Hendardji, seringkali bekerja dalam industri yang tidak stabil, sehingga dukungan sistematis sangat diperlukan.
Potensi seniman yang besar, namun kontradiktif dengan tingkat kerentanan ekonomi mereka. Banyak seniman masih menghadapi kendala dalam perlindungan sosial dan stabilitas pendapatan.
Menurut Hendardji, peran Pemerintah sebagai pemegang kebijakan nasional harus bisa memberi solusi terhadap kerentanan ekonomi para seniman tersebut.
“Harus ada kebijakan lintas kementerian dengan terus memperbaiki pendapatan negara yang bisa memberi subsidi lebih memadai untuk para pelaku seni budaya,” tegasnya.
Hendardji menyadari bahwa anggaran di Kementerian Kebudayaan RI sangat terbatas. Tetapi jika dilihat secara utuh dana Pemerintah untuk pengentasan kemiskinan cukup besar.
“Sehingga subsidi silang harus menjadi konsep bersama supaya kerentanan ekonomi para seniman tradisi dapat diatasi, dan tidak menjadi lingkaran setan yang terus berulang,” ungkapnya.
Penghormatan Terhadap Martabat Manusia
Pembagian sembako, kata Hendardji, juga bagian dari syiar. Dakwah kemanusiaan dalam perspektif kebudayaan. Menyampaikan nilai-nilai kebaikan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Pendekatan ini, tukas Hendardji, tidak hanya menempatkan budaya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai wadah menanamkan etika, moralitas, dan spirit keagamaan yang humanis, rasional, dan transformatif.
“Budaya Indonesia adalah identitas bangsa yang diperoleh melalui hasil cipta, rasa, karsa, secara turun-temurun selama ratusan tahun. Bahkan ribuan tahun lalu, diantaranya adalah nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang tanpa batas. Spirit ini perlu terus dilestarikan di tingkat nasional dan global yang bisa mencegah terjadinya perang,” tegasnya.
Dengan demikian, pungkas Hendardji, pendekatan budaya merupakan cara efektif untuk membumikan konsep martabat manusia, menjadikannya terasa relevan dan melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat./*