Ponorogo – Kabarlagi.id.Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, memberangkatkan peserta Jelajah Situs Sejarah Ponorogo di depan rumah dinasnya, Sabtu (23/8) pagi.
Jelajah Situs yang diinisiasi Komunitas Kepurbakalaan Jawa Kuno Kulon Wilis dan Pamong Wengker ini diikuti 80 orang peserta, mulai dari orang tua, remaja hingga anak-anak.
Jelajah Situs juga diikuti mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam IAIN Ponorogo.
Sugiri Sancoko dalam sambutannya menyambut baik kegiatan Jelajah Situs ini.

“Ini kegiatan yang keren. Ini merupakan kegiatan yang tidak sekadar jalan-jalan ke situs bersejarah tapi kita menancapkan tonggak bahwa anak-anak muda atau generasi penerus kelak harus memahami sejarah bangsanya,” kata Bupati Ponorogo dua periode ini.
Kang Giri–sapaan akrab Sugiri Sancoko–mengingatkan upaya-upaya melumpuhkan suatu bangsa salah satumya memisahkan generasi muda dari leluhur dan sejarahnya.
“Saya punya mimpi besar bahwa kegiatan ini akan menjadi kegiatan yang gemuruh, kegiatan yang dahsyat bahwa anak-anak muda mencintai bangsa dan leluhurnya dan akan membentuk karakter bangsa,” kata Kang Giri dengan berapi-api.
Ditambahkannya, perbedaan bangsa Indonesia dengan bangsa lain di luar negeri yaitu bangsa Indonesia masyarakatnya masih mencintai dan mempunyai pertautan dengan leluhurnya.
Sebelum berangkat peserta berkesempatan meninjau Museum Peradaban Ponorogo Transit yang lokasinya tidak jauh dari rumah dinas Bupati Ponorogo atau masih satu kompleks perkantoran Pemkab Ponorogo, Jl. Alun-alun Utara.

Di Museum Peradaban Transit tersimpan koleksi artefak era Hindu Buddha dan alat-alat pertanian dan rumah tangga tempo doeloe.
Jelajah Situs dimulai di situs Makam Batara Katong (tokoh pendiri Kabupaten Ponorogo utusan Kerajaan Demak). Lalu dilanjutkan ke situs Gunung Gae, situs Medang, stom atau pembangkaran gamping peninggalan Belanda dan Monumen Reog Ponorogo.
Menariknya, peserta mengunjungi artekak berupa lingga yoni yang tersimpan di rumah Jemarin, Dusun Bogen, Desa/Kecamatan Sampung. Empat berupa yoni dan satu yoni lengkap dengan lingganya yang menancap. Artefak tersebut dibuat sekitar abad 10 Masehi.
“Lima artefak itu ditemukan di sawah saya tahun 2006, kemudian beramai-ramai dibawa ke rumah saya. Saya berharap Pemkab Ponorogo membantu membuatkan tempat untuk artefak tersebut, karena banyak yang berkunjung kemari,” ujarnya.
Peserta Jelajah Situs dikenakan biaya Rp 50.000 per orang, mendapat fasilitas makan siang dan snack. Berbeda dengan jelajah tahun sebelumnya yang naik kereta kelinci, jelajah sekarang dibantu Pemkab Ponorogo berupa dua bus dan satu Elf.
Arif Basuki, Ketua Komunitas Kepurbakalaan Jawa Kuno Kulon Wilis, berharap Jelajah Situs bisa menjadi agenda Pemkab Ponorogo setiap bulan, mengingat besarnya minat peserta.
“Kalau pendaftatan tidak kami batasi pesertanya bisa membludak, bisa lebih dari 100 orang. Selain itu kegiatan ini juga semacam cek ombak untuk mengetahui minat masyarakat mengikuti jelajah ini,” kata anggota Tim Pendaftar Cagar Budaya Kabupaten Ponorogo ini.
Sementara Titis Musito, koordinator Jelajah Budaya, mengatakan nantinya Jelajah Situs akan menjadi salah satu kegiatan Museum Peradaban Ponorogo. “Kegiatan Jelajah Situs ini merupakan salah satu kegiatan literasi museum,” ujarnya.(bud)