Merauke – Kabarlagi.id. Program sinkronisasi birahi dan inseminasi buatan (IB) yang dijalankan Tim 17 Ekspedisi Patriot IPB di Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, membuahkan hasil menggembirakan, Jumat, (30/10/2026). Pemeriksaan kebuntingan sapi betina menggunakan ultrasonografi (USG) menunjukkan tingkat keberhasilan kebuntingan mencapai 70 persen, sebuah capaian positif untuk mendukung pengembangan peternakan sapi di Merauke.
Pemeriksaan ini digelar untuk membaca hasil inseminasi buatan sekaligus mengevaluasi program yang sebelumnya telah dijalankan tim. Dengan USG, status kebuntingan sapi dapat diketahui secara lebih akurat, dan hasilnya menjadi bahan pertimbangan bagi pelaksanaan program inseminasi buatan pada sapi berikutnya di Merauke.

Tim 17 Ekspedisi Patriot IPB memeriksa kebuntingan sapi dengan USG di Distrik Semangga (Sumber: istimewa)
Angka 70 persen tersebut menarik dicermati karena keberhasilan inseminasi buatan pada sapi dipengaruhi banyak hal, mulai dari ketersediaan nutrisi pakan, kondisi cuaca, sampai metode pemeliharaan ternak. Faktor-faktor itu menjadi aspek yang perlu diperhatikan bila produktivitas reproduksi ternak di wilayah Merauke ingin terus ditingkatkan.
Dalam pemeriksaan kebuntingan ini, Tim 17 Ekspedisi Patriot IPB menggandeng drh. Adis, dokter hewan yang bertugas sebagai Medik Veteriner Ahli Muda dari Dinas Kesehatan Hewan Dompu, Nusa Tenggara Barat. Kehadiran tenaga medis veteriner tersebut memperkuat pelaksanaan pemeriksaan di lapangan sekaligus memberikan perspektif teknis dalam mengevaluasi hasil inseminasi buatan.
Drh. Adis menilai capaian kebuntingan sebesar 70 persen ini sebagai hasil yang positif bagi perkembangan peternakan di Merauke. “Sinergi antara Tim 17 Ekspedisi Patriot IPB dan Mantri Kesehatan Hewan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pelaksanaan program,” ujarnya.

Foto bersama Tim 17 Ekspedisi Patriot IPB usai pemeriksaan kebuntingan sapi di Distrik Semangga (Sumber: istimewa)
Program Tim 17 ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat di kawasan transmigrasi. Arah tersebut sejalan dengan pesan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Kamis, (17/9/2026), yang menekankan peserta Ekspedisi Patriot perlu menghasilkan solusi konkret sesuai kebutuhan masyarakat dan dapat diterapkan di lapangan, bukan berhenti pada persoalan.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara dalam pernyataannya pada 21 Juli 2026 turut menekankan hasil kegiatan Ekspedisi Patriot perlu memberikan manfaat yang berkelanjutan. Ia mendorong peserta menghasilkan karya dan solusi yang manfaatnya dirasakan masyarakat, bukan sekadar menyelesaikan laporan kegiatan.
Ke depan, hasil evaluasi program inseminasi buatan ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi instansi terkait dan Pemerintah Provinsi Papua Selatan dalam menyusun strategi pengembangan peternakan. Melalui kolaborasi perguruan tinggi dan pemerintah daerah, penerapan teknologi reproduksi ternak diharapkan kian berkembang sesuai kebutuhan wilayah dan mendongkrak produktivitas peternakan secara berkelanjutan. (Rizki)









