Merauke – Kabarlagi.id. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Papua Selatan menyelenggarakan Safari Dakwah guna memperkuat fondasi kelembagaan dan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah di Merauke pada Minggu (17/05/2026).
Agenda yang dihadiri ratusan nahdliyin dari berbagai elemen badan otonom ini menjadi ajang konsolidasi spiritual di bawah cuaca cerah ufuk timur Indonesia.
Tampil memberikan arahan pembuka, KH Mohamad Arifin menyoroti peran strategis manusia sebagai pengelola bumi. Ia mengingatkan bahwa kesempurnaan akal dan hati menuntut tanggung jawab penuh atas segala tindakan.
“Kalau kita tidak bisa memanfaatkan alam semesta ini di sekeliling kita, kita diberi kesempurnaan akal, insting, dan hati, maka jangan salahkan siapa-siapa, salahkan dirimu sendiri,” tegas KH Arifin di hadapan jamaah.
Keberagaman dalam tubuh organisasi NU, menurutnya, adalah sebuah keniscayaan yang justru menciptakan kekuatan. Ia mengibaratkan sinergi lintas profesi dan jabatan tersebut layaknya proses menyajikan sebuah hidangan yang nikmat.
“Makanan yang dihidangkan itu ada berbagai profesi, tenaga, keahlian beda-beda. Tapi itu satu rangkaian utuh sehingga bisa dinikmati manusia,” paparnya.
Lebih jauh, ia menekankan esensi jamaah untuk merawat kebersihan hati atau nur di dalam diri.
“Kalau kita jalan sendiri, amal sendiri, nur api di hati kita akan pelan-pelan mengalami penurunan cahayanya. Begitu kita bertemu silaturahmi, pengajian, bertemu orang berilmu, niscaya nur itu kembali bersinar,” tambahnya.
Suasana majelis semakin dinamis dan humoris saat Gus Maulana dari Sidoarjo memberikan tausiyah. Dai nasional ini membawa jamaah merenungi akar tradisi kemasyarakatan yang identik dengan NU, salah satunya adalah perayaan Halal Bihalal.
Gus Maulana meluruskan sejarah dan makna dari tradisi yang kerap menjadi sarana perdamaian tersebut.
“Orang yang mencetuskan halal bihalal pertama kali, siapa bapak, ibu? Salah satu di antara pendiri Nahdlatul Ulama dari tiga ini. Pendiri NU kan KH. M. Hasyim Asy’ari, Mbah KH. Abdul Wahab Hasbullah, Mbah Kiai KH. Bisri Syansuri. Yang mencetuskan halal bihalal yaitu Mbah KH. Abdul Wahab Hasbullah,” ungkapnya.
Ia kemudian menyederhanakan makna filosofis dari istilah tersebut agar mudah dipahami oleh masyarakat akar rumput dalam kehidupan sehari-hari.
“Halal bihalal itu kosong-kosong. Doa minta maafkan, saya juga tolong dimaafkan,” jelas Gus Maulana.
Di penghujung tausiahnya, ia menyuntikkan semangat militansi kepada seluruh kader dan jamaah yang memadati lokasi acara. Sebuah pesan tegas dilontarkan untuk menjaga muruah organisasi di mana pun berada.
“Maka, sampai tetes darah paling penghabisan, tetaplah bangga menjadi warga Nahdlatul Ulama. Sampai ujung nafas paling akhir, sampai jatah air paling akhir, sampai jatah butir nasi yang paling akhir, tetaplah bangga menjadi warga
Nahdlatul Ulama,” pungkasnya yang langsung disambut gemuruh jamaah. (Rizki)


