Merauke – Kabarlagi.id. Peternakan rakyat di Distrik Semangga, Kabupaten Merauke mulai diarahkan menjadi ladang bisnis bernilai ekonomi tinggi lewat pembenahan tata kelola pakan awetan, Senin, (14/9/2026). Melalui program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 besutan Kementerian Transmigrasi dan IPB University, peternak di Distrik Semangga didorong memutus kebiasaan melepas sapi di padang liar tanpa kontrol nutrisi. Pola semi-ekstensif kini dipacu agar sapi-sapi Merauke memiliki standar bobot karkas yang layak bersaing di pasar kurban nasional.
Potensi Merauke luar biasa. Hamparan padang rumput datar terbentang luas, namun sapi potong milik warga kerap terjun bebas bobotnya saat kemarau menyengat. Guna mengubah nasib peternak dari sekadar pemelihara musiman menjadi pelaku agribisnis, sekitar 50 peternak Kampung Semangga Jaya digembleng teknik fermentasi pakan berbasis sumber daya lokal. Di lokasi, tim menyerahkan stimulan bahan silase seperti ampas sagu, molases, dan kunyit kepada ketua kelompok ternak, Giman.
Rambah Bursa Daring
Ketua Tim Patriot IPB University Distrik Semangga, Tekad Urip Pambudi Sujarnoko, S.Pt., M.Si., menegaskan bahwa kemandirian pakan adalah kunci utama sebelum melangkah ke industrialisasi ternak Merauke. Peternak tak boleh lagi bertumpu pada nasib cuaca.
“Yang pertama kami inginkan adalah penguatan triple helix dari masyarakat, akademik, dan pemerintah untuk bersama membangun peternakan di Merauke. Selanjutnya kita melangkah ke pasar yang lebih baik dengan memanfaatkan digitalisasi, agar ternak Merauke bisa dibeli dan dirasakan masyarakat se-Indonesia,” tutur Tekad Urip.
Gagasan hilirisasi tersebut dirancang matang. Tekad membidik jaringan lembaga keagamaan besar untuk menyalurkan hewan kurban langsung dari kandang peternak lokal.

“Harapannya kita membuka program tebar kurban bekerja sama dengan pemerintah maupun ormas seperti Muhammadiyah dan NU. Sahabat yang kesulitan berkurban di Pulau Jawa atau luar negeri bisa mengirim dana, lalu sapinya diserap dari peternak Merauke dan dibagikan ke warga sini,” urainya.
Guna menjaga performa ternak sebelum dipasarkan, limbah ampas sagu basah yang gampang busuk diolah menjadi tabungan silase bergizi. Formulasi pakan fermentasi ini diperkuat rebusan kulit akasia liar sebagai aditif alami penekan parasit cacing dan peredam emisi metana.
“Tanin kulit akasia kita ekstrak dengan cara paling mudah, yakni direbus. Tanin ini mengobati cacingan dan pada dosis terukur menjadi protein bypass sehingga sapi menyerap protein pakan secara maksimal,” terang Tekad.
Ia membagikan buku saku pemeliharaan ruminansia berbahasa lugas agar peternak piawai menangani pakan dan penyakit herbal secara swadaya.
Jamin Mutu Daging
Langkah komersialisasi ini mendapat garansi dukungan penuh dari regulator daerah. Kepala Bidang Sarana, Prasarana, dan Penyuluhan Peternakan Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan, dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke, Francina F.I. Rumlus, S.Pt., menilai penguasaan teknologi silase membuat peternak tak lagi rentan rugi akibat ternak kurus.

“Pembuatan silase ini inovasi yang sangat baik. Sagu di Merauke selalu tersedia dan takaran penggunaannya bisa lebih dominan dibanding dedak untuk mengantisipasi gagal panen serta kemarau panjang,” ungkap Francina F.I. Rumlus.
Dinas langsung bergerak cepat. Formula pakan yang diajarkan akademisi ini diproyeksikan masuk ke dalam modul penyuluhan resmi ke seluruh kantong sentra sapi potong di Merauke.
“Perguruan tinggi menyumbang informasi teknologi, sedangkan kami di dinas menerapkannya lewat program kerja nyata. Pengetahuan silase ampas sagu dan daun akasia ini resmi kami masukkan ke kurikulum pelatihan tahunan daerah,” serunya.
Kesiapan peternak beralih ke bisnis modern diamini oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kampung Semangga 1, Toyib Anwar. Petani di wilayah kerjanya yang meliputi Kampung Semangga Jaya, Kupper, dan Kuprik sangat bergantung pada pendapatan sampingan dari memelihara sapi.
“Pelatihan ini sangat membantu tani peternak di Semangga Jaya mengatasi urusan pakan harian. Mayoritas warga di sini petani yang merangkap beternak sapi, jadi sinergi teknologi bersama Patriot IPB semacam ini memang sangat dinanti,” jelas Toyib Anwar.
Kelemahan peternakan tradisional Merauke selama ini dikuliti oleh akademisi lokal. Pelaksana Tugas Ketua Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Musamus, Maria Magdalena Nay Nadu Lesik, S.Pt., M.Sc., membeberkan bahwa pola gembala liar merugikan nilai jual ternak saat musim kering.
“Pada musim kemarau pakan habis sehingga sapi menjadi kurus, sementara saat musim hujan sapi kembali gemuk. Pelatihan silase ini memberi kepastian nutrisi agar fisik ternak stabil sepanjang tahun,” papar Maria Magdalena.
Kemitraan riset ini dipastikan tidak berhenti saat ekspedisi berakhir. Kampus Musamus bersiap mengambil tongkat estafet pendampingan di lapangan.
“Kami berharap kolaborasi dengan IPB terus terjalin. Ketika kawan-kawan IPB kembali ke Jawa, program ini tidak terputus melainkan diteruskan oleh akademisi lokal di Merauke,” pungkasnya. (Rizki)






