Berkabar Untuk Indonesia Jl. Kramat Lontar No.H. 92, RT.6/RW.7, Kramat, Kec. Senen, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10450

Menu Utama

BPIP Gaungkan Pancasila Sebagai Pemersatu Bangsa di Papua Selatan

PenulisRizki Saputra
Dipublikasikan

Merauke – Kabarlagi.id. Halaman Kantor Gubernur Papua Selatan di Salor menjadi saksi penegasan kembali posisi Pancasila sebagai jangkar moral di tengah dinamika global. Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Agustinus Joko Guritno, memimpin upacara peringatan Hari Lahir Pancasila pada Selasa, (02/06/2026) dengan membawa pesan kuat dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Dalam upacara tersebut, Agustinus membacakan pidato Kepala BPIP, Yudian Wahyudi, yang menekankan bahwa Pancasila bukan sekadar seremoni tahunan.

“Hari ini, Senin, 1 Juni 2026, kita kembali berdiri di atas tanah pusaka untuk memperingati hari lahir Pancasila,” kata Agustinus saat membacakan pidato Yudian.

Momen ini disebutnya sebagai waktu refleksi untuk memastikan ideologi negara tetap menyala dalam jiwa setiap insan Indonesia. Tahun ini, tema yang diusung adalah “Pancasila Pemersatu Bangsa, Pondasi Perdamaian Dunia”. Sebuah pesan yang menempatkan nilai luhur bangsa sebagai solusi atas ketidakpastian global.

Agustinus menjelaskan bahwa Pancasila adalah bintang penuntun yang telah membuktikan ketangguhannya saat dunia dibayangi ancaman fragmentasi. Indonesia, dengan lebih dari 17 ribu pulau dan ratusan etnik, tetap berdiri kokoh sebagai contoh nyata persatuan.

“Pancasila adalah jangkar moral kita dalam menghadapi turbulensi global, mulai dari isu-isu teknologi hingga dinamika geopolitik,”ujarnya.

Ia menambahkan bahwa peran Indonesia di panggung dunia bukan sekadar penonton. Sesuai amanat pembukaan UUD 1945, negara memiliki tanggung jawab konstitusional untuk menjaga ketertiban dunia.

“Indonesia bukan hanya penonton dalam kancah dunia. Kita memiliki tanggung jawab konstitusional untuk melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial,” ungkapnya lagi.

Kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas aktif berakar pada nilai musyawarah dan mufakat. Instrumen diplomasi ini dianggap krusial untuk menjembatani perbedaan dan menghentikan konflik internasional.

Indonesia juga terus menunjukkan kepemimpinan nyata melalui kontribusi pasukan perdamaian di bawah bendera PBB.

“Peran kita dalam memediasi konflik nasional serta konsistensi dalam menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa terjajah adalah pengejawantahan dari sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,”tegasnya.

Agustinus mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda di Papua Selatan, untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup. Ia mengingatkan agar nilai-nilai luhur ini tidak berhenti menjadi sekadar hiasan dinding kantor atau teks mati di buku sejarah.

Pesan khusus juga dititipkan kepada jajaran Forkopimda, Ketua DPRP dan MRP Papua Selatan, hingga para bupati agar setiap kebijakan publik yang lahir senantiasa berlandaskan keadilan sosial.

“Pastikan setiap kebijakan yang lahir berlandaskan keadilan sosial, memenuhi rasa keadilan publik, menjamin hak-hak masyarakat kecil, dan tidak membiarkan ada rakyat yang merasa ditinggalkan,” tutur Agustinus.

Mengakhiri pidatonya, ia menyerukan perlawanan terhadap segala bentuk intoleransi dan radikalisme yang berpotensi merusak ikatan kebangsaan.

“Selama darah Indonesia masih mengalir di tubuh kita, Pancasila akan senantiasa hidup dalam setiap denyut nadi seluruh anak bangsa di republik ini,” pungkasnya. (Rizki)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.Ruas yang wajib ditandai *

Leave a comment
scroll to top