Merauke – Kabarlagi.id. Masa depan Android sebagai platform terbuka kini berada di ujung tanduk. Mulai September 2026, Google berencana mewajibkan seluruh pengembang aplikasi di dunia untuk mendaftar secara terpusat, sebuah langkah yang dinilai akan mengubah total wajah sistem operasi paling populer ini menjadi ekosistem yang terkunci.
Ketentuan baru ini mengharuskan setiap pengembang, baik komersial maupun komunitas non-profit, untuk menyerahkan identitas resmi pemerintah, membayar biaya tertentu, dan tunduk pada syarat dan ketentuan Google yang bersifat sepihak. Tanpa verifikasi tersebut, aplikasi tidak akan bisa dipasang atau dijalankan di perangkat Android Bersertifikat, yang mencakup lebih dari 95 persen perangkat di luar China.
“Android, yang saat ini merupakan platform terbuka di mana siapa pun dapat mengembangkan dan mendistribusikan aplikasi secara bebas, akan menjadi platform yang terkunci,” tulis F-Droid dalam surat terbuka, Selasa (24/02/26).
Langkah Google ini juga menyasar praktik sideloading atau instalasi aplikasi tanpa perantara toko resmi. Meski Google sempat mengklaim tidak akan menghapus fitur tersebut, komunitas pengembang menilai pernyataan itu menyesatkan. Kebijakan ini mewajibkan perangkat untuk menghubungi server Google setiap kali pengguna mencoba menginstal atau meluncurkan aplikasi guna memverifikasi persetujuan pengembang.
Kondisi ini membuat toko aplikasi alternatif seperti Samsung Galaxy Store maupun repositori komunitas seperti F-Droid berada dalam posisi terjepit. Mereka kini diwajibkan mendaftar ke kompetitor mereka sendiri, yaitu Google, untuk tetap bisa beroperasi.
“Sideloading memang akan dihapus jika mereka menindaklanjuti ancaman tersebut. Pesaing toko aplikasi di masa depan akan selamanya dirugikan karena para pengembang mereka diwajibkan mendaftar ke Google,” tegas pihak F-Droid.
Google sempat memberikan sinyal pelunakan dengan menjanjikan adanya”alur lanjutan”bagi pengguna berpengalaman untuk menginstal perangkat lunak tidak terverifikasi. Namun, hingga saat ini, belum ada informasi konkret mengenai mekanisme tersebut. F-Droid menilai janji itu hanya upaya meredam protes publik tanpa ada implementasi nyata.
Fase pertama penguncian ini dijadwalkan dimulai pada Maret 2026 dengan pembukaan konsol registrasi pengembang. Menanggapi jadwal tersebut, F-Droid secara tegas menyerukan penolakan massal.
“Kami secara tegas menyarankan untuk tidak mendaftar ke program ini, sekarang atau selamanya. Hanya melalui keterlibatan para pengembanglah penguncian Android oleh Google dapat berhasil,” tulis mereka.
Gerakan perlawanan ini tidak berdiri sendiri. Sejumlah organisasi besar seperti Electronic Frontier Foundation (EFF), Free Software Foundation Europe, dan Software Freedom Conservancy telah bergabung dalam koalisi internasional untuk menekan Google agar membatalkan kebijakan tersebut. Komunitas berharap Google bersedia mencari pendekatan keamanan platform yang lebih terukur tanpa harus mengorbankan kebebasan perangkat lunak yang telah membangun ekosistem Android hingga sebesar sekarang. (Rizki)




