Menu ✖

Mode Gelap
AKBP Rezi Dharmawan Sampaikan Ucapan Selamat Ulang Tahun ke-59 untuk Sufmi Dasco Ahmad Dior Rachall Dorong Gibran Pertimbangkan Mundur dari Wapres: Demi Kehormatan Diri dan Keluarga TEP Peternakan IPB Kenalkan Fermentasi Ampas Sagu sebagai Pakan Ternak di Festival Kali Mar KPA Merauke Evaluasi Kinerja, Prioritaskan Edukasi HIV/AIDS bagi Usia Produktif Pemprov Papua Selatan Minta BGN Buka Dapur MBG di Wilayah 3T

Figur · 17 Feb 2026 04:16 WIT ·

Ketum FUSI: Ramadan Fondasi Penguatan Persaudaraan di Tengah Keberagaman


					Ketum FUSI: Ramadan Fondasi Penguatan Persaudaraan di Tengah Keberagaman Perbesar

Jakarta — Kabarlagi.id Ketua Umum Forum Ulama Santri Indonesia (FUSI), Gus Syaifuddin, menegaskan bahwa bulan suci Ramadan bukan sekadar momentum peningkatan ibadah ritual, tetapi juga saat krusial untuk memperkuat solidaritas sosial dan mempererat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Menurut Gus Syaifuddin, Ramadan menghadirkan ruang spiritual sekaligus sosial yang begitu kuat. Ibadah puasa, salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, hingga i’tikaf di masjid menjadi bagian dari penyucian diri. Namun, lebih dari itu, nilai-nilai kepedulian sosial seperti zakat, infak, dan sedekah harus semakin ditingkatkan agar manfaat Ramadan dapat dirasakan secara luas.

“Ramadan adalah momen menyucikan hati dan mempererat ukhuwah. Di bulan ini, kita diajak memperkecil jurang sosial dan menebar empati kepada sesama,” ujar Gus Syaifuddin dalam keterangannya.

Ia menekankan bahwa tradisi berbagi takjil, santunan kepada anak yatim, hingga bantuan bagi kaum dhuafa merupakan wujud nyata dari ajaran Islam yang menyeimbangkan hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan antarmanusia (hablum minannas).

Kepedulian di Tengah Keberagaman

Dalam konteks kehidupan bangsa yang majemuk, Ramadan juga menjadi momentum strategis untuk merawat harmoni sosial. Gus Syaifuddin menyebut bulan suci ini sebagai “madrasah kehidupan” yang mengajarkan kesabaran, pengendalian diri, dan semangat kebersamaan.

“Ramadan mengajarkan bahwa ibadah tidak berhenti pada dimensi spiritual semata, tetapi harus berbuah pada kepedulian sosial. Di tengah keberagaman, nilai kebersamaan dan toleransi harus terus dijaga,” tegasnya.

Ia berharap semangat berbagi dan solidaritas yang tumbuh selama Ramadan tidak hanya berlangsung sesaat, melainkan menjadi karakter yang terus hidup dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan demikian, Ramadan bukan hanya bulan penuh berkah secara individual, tetapi juga menjadi fondasi penguatan kohesi sosial, mempererat ukhuwah, dan meneguhkan kembali komitmen kebangsaan dalam bingkai persatuan.

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

AKBP Rezi Dharmawan Sampaikan Ucapan Selamat Ulang Tahun ke-59 untuk Sufmi Dasco Ahmad

7 Oktober 2026 - 15:47 WIT

Dior Rachall Dorong Gibran Pertimbangkan Mundur dari Wapres: Demi Kehormatan Diri dan Keluarga

6 Oktober 2026 - 09:43 WIT

TEP Peternakan IPB Kenalkan Fermentasi Ampas Sagu sebagai Pakan Ternak di Festival Kali Mar

4 Oktober 2026 - 21:55 WIT

KPA Merauke Evaluasi Kinerja, Prioritaskan Edukasi HIV/AIDS bagi Usia Produktif

2 Oktober 2026 - 21:37 WIT

Pemprov Papua Selatan Minta BGN Buka Dapur MBG di Wilayah 3T

2 Oktober 2026 - 21:13 WIT

Capaian Program Hunian dan Pengelolaan Sampah, Merauke Sabet Dua Penghargaan Kemendagri

2 Oktober 2026 - 18:49 WIT

Trending di Goverment