JAKARTA – Kabarlagi.id. Manajemen PT Transportasi Jakarta menyampaikan permohonan maaf terbuka menyusul insiden penanganan penumpang tunawisma yang diminta turun dari bus di Halte Kampung Melayu, Jakarta Timur, Senin, (3/8/2026). Peristiwa tersebut mendadak ramai diperbincangkan publik setelah rekaman videonya tersebar di media sosial.
Dalam narasi video yang beredar luas, penumpang tersebut diturunkan oleh petugas operasional lapangan lantaran diduga mengeluarkan bau badan menyengat yang mengganggu kenyamanan pengguna jasa lainnya.
Kepala Departemen Humas dan CSR Transjakarta, Ayu Wardhani, mengonfirmasi kejadian tersebut sekaligus menyampaikan penyesalan atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan.
“Kami memohon maaf yang setulus-tulusnya atas ketidaknyamanan yang dirasakan pelanggan,” ungkap Ayu saat memberikan keterangannya.
Menjelaskan kronologi di lokasi kejadian, Ayu menyebutkan bahwa tindakan petugas di lapangan bukan tanpa alasan. Langkah penertiban itu diambil setelah menerima aduan langsung dari para penumpang di dalam bus yang merasa terganggu oleh bau menyengat.
“Pendekatan kepada pelanggan yang bersangkutan, telah kami lakukan hingga akhirnya turun dari bus,” terang Ayu.
Koordinasi Dinas Sosial dan Evaluasi SOP
Berdasarkan penelusuran tim lapangan, penumpang tersebut teridentifikasi sebagai seorang tunawisma. Menyikapi kondisi tersebut, pihak Transjakarta bergerak menghubungkan temuan ini ke instansi pemerintah daerah terkait agar pelanggan tersebut mendapatkan penanganan yang lebih layak.
Langkah koordinasi langsung dibangun bersama Dinas Sosial DKI Jakarta guna memastikan keberadaan warga tersebut tertangani dengan bantuan sosial dan perawatan yang tepat.
Insiden ini sekaligus memicu pembenahan internal di tubuh pengelola transportasi publik milik daerah tersebut. Ayu menegaskan pihaknya tidak tinggal diam dan menjadikan peristiwa di Halte Kampung Melayu ini sebagai momentum pembenahan total.
“Kejadian ini menjadi bahan evaluasi mendalam bagi kami. Transjakarta berkomitmen untuk terus memperbaiki SOP serta melatih sensitivitas petugas, agar pelayanan kami tidak hanya menjaga kenyamanan publik, tetapi juga selalu mengedepankan rasa kemanusiaan,” tandasnya.
(Rizki)




