Merauke – Kabarlagi.id. Badan Karantina Indonesia memperketat seluruh pintu masuk ternak babi dan produk olahannya ke Merauke setelah virus African Swine Fever (ASF) resmi terkonfirmasi di Distrik Arimob, Kabupaten Boven Digoel. Langkah tanggap darurat ini ditempuh untuk membentengi populasi ternak lokal dari ancaman wabah yang kian mendekat.

Peringatan dini bermula saat sekitar 1.100 ekor babi dilaporkan mati di tujuh distrik wilayah Kabupaten Boven Digoel pada April 2026. Kecurigaan peternak terjawab pada Juli 2026, ketika uji laboratorium Balai Veteriner Jayapura memastikan kematian massal tersebut positif disebabkan oleh virus ASF.

Merespons temuan itu, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Papua Selatan bersama Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke menggelar forum sosialisasi kewaspadaan dini di Kantor Bupati Merauke pada Sabtu, (22/8/2026). Agenda tersebut melibatkan lintas instansi, Majelis Rakyat Papua, Balai Veteriner Jayapura, hingga para peternak babi rakyat.

Kepala Karantina Papua Selatan, Irsan Nuhantoro, menegaskan pengawasan ketat tak bisa ditunda mengingat populasi babi di Papua Selatan mencapai 16.214 ekor, dengan sekitar 5.000 ekor di antaranya berada di Kabupaten Merauke.

“Pengawasan perlu diperkuat, terutama terhadap lalu lintas babi dan produk turunannya. Biosekuriti di tingkat peternakan juga harus menjadi perhatian bersama,” ujar Irsan.

Penyekatan kini difokuskan pada jalur darat poros Boven Digoel–Merauke, area kargo Bandara Mopah, serta pintu masuk pelabuhan laut. Tak cuma lalu lintas kendaraan dan angkutan ternak, tim lapangan juga memetakan rute transmisi alami yang kerap luput dari pantauan, seperti migrasi babi hutan dan aliran sungai.

Di tingkat peternakan, peternak diimbau memperketat penerapan biosekuriti kandang secara mandiri. Langkah tersebut mencakup penyemprotan disinfektan berkala, penggunaan alas kaki khusus kandang, penyaringan akses tamu luar, memastikan asal bibit ternak, hingga kewajiban merebus pakan sisa sampai mendidih.

Bupati Merauke, Yoseph Bladib Gebze, mengingatkan bahwa kelangsungan usaha ternak babi rakyat bergantung pada ketegasan pengawasan di lapangan dan kesadaran bersama.

“Kita perlu memperkuat kerja sama lintas instansi agar potensi masuknya ASF dapat dicegah dan keberlangsungan peternakan babi di Merauke tetap terjaga,” kata Yoseph.

Sebagai langkah lanjutan, pemerintah daerah bersama instansi terkait segera merumuskan pembentukan Tim Satgas Pengendalian Wabah Penyakit Menular Hewan serta SOP tanggap darurat ASF. Sebanyak 1.000 dosis vaksinasi dan bantuan teknis juga disiapkan untuk disalurkan ke kawasan penyangga, khususnya Distrik Jair dan Mandobo, guna menahan laju virus sebelum menembus Merauke. (Rizki)