Berkabar Untuk Indonesia Jl. Kramat Lontar No.H. 92, RT.6/RW.7, Kramat, Kec. Senen, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10450

Menu Utama

Pemprov Papua Selatan Latih Perempuan Merajut Guna Perkuat Ekonomi

PenulisRizki Saputra
Dipublikasikan

Merauke – Kabarlagi.id. Pemerintah Provinsi Papua Selatan resmi membuka pelatihan merajut bagi kaum perempuan sebagai upaya memperkuat ekonomi kreatif sekaligus menjaga warisan budaya lokal. Kegiatan yang digagas Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) ini menjadi langkah nyata dalam mewujudkan kesetaraan gender di wilayah tersebut.

Berlangsung di Hotel Sunny Day Inn Merauke, pelatihan ini dijadwalkan selama dua hari, mulai 8-9 Juli 2026. Agenda ini difokuskan untuk mengasah kreativitas perempuan agar mampu menghasilkan produk bernilai jual tinggi dari keterampilan tangan.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Papua Selatan, Agustinus Joko Guritno, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk perlindungan dan penyediaan layanan pemberdayaan perempuan di tingkat provinsi. Menurutnya, pemenuhan hak antara perempuan dan laki-laki harus dilakukan secara adil melalui peningkatan kapasitas diri.

“Kebutuhan dan hak antara perempuan dan laki-laki harus dipenuhi secara adil dan sejajar, ” tegas Agustinus Joko Guritno di sela-sela pembukaan kegiatan, Rabu, (08/07/2026).

Pilihan merajut sebagai materi utama bukan tanpa alasan. Guritno memaparkan bahwa merajut memiliki manfaat ganda; selain sebagai sumber penghasilan, aktivitas ini juga berdampak positif pada kesehatan mental bagi pelakunya.

“Merajut membantu pikiran, mengurangi cemas, dan memulihkan rasa percaya diri. Merajut juga merupakan bagian dari tenang serta tetap produktif dan punya penghasilan sendiri, ” ujar Guritno.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa merajut merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat di empat kabupaten di Papua Selatan, yakni Merauke, Boven Digoel, Mappi, dan Asmat. Keterampilan ini sudah mengakar dalam pembuatan busana adat hingga tas tradisional.

“Budaya merajut mulai dari menenun baju adat disebut cawat, koteka dan noken. Mari kita bekerjasama untuk menciptakan masyarakat adil, setara dan sejahtera, “ajak Asisten I tersebut.

Agar kegiatan ini tidak berhenti pada seremoni pelatihan saja, Guritno menginstruksikan Dinsos PPPA untuk segera membangun sinergi dengan instansi terkait guna menjamin rantai pemasaran produk. Ia berharap setiap simpul benang yang dihasilkan peserta dapat menjadi modal kemandirian ekonomi keluarga.

“Melalui kerjasama yang dibangun, hasil rajutan dapat dipasarkan, mencarikan pasar untuk menjual hasil produktivitas rajutan. Hak paten dan merek rajutan juga perlu diurus sehingga kualitasnya tetap dipertahankan, ” papar Guritno memberikan arahan teknis.

Ia berharap pelatihan ini menjadi momentum bagi perempuan di Papua Selatan untuk tampil sebagai pilar penting dalam pembangunan daerah yang bermartabat. Harapannya, setelah menyelesaikan pelatihan, para peserta dapat langsung mempraktikkan ilmu yang didapat guna mendongkrak kesejahteraan ekonomi rumah tangga masing-masing. (Rizki)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.Ruas yang wajib ditandai *

Leave a comment
scroll to top