Merauke – Kabarlagi.id. Pemerintah Provinsi Papua Selatan memfinalisasi rancangan Peraturan Gubernur (Rapergub) Perlindungan Sosial Generasi Emas (Gemas) Ha-Anim guna mendongkrak kualitas sumber daya manusia lokal. Langkah ini merupakan tindak lanjut prioritas pembangunan daerah yang menargetkan pengentasan stunting dan kemiskinan ekstrem, khususnya bagi Orang Asli Papua (OAP).
Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) menggandeng SKALA dalam menggelar lokakarya finalisasi regulasi tersebut di Hotel Halogen Merauke, Selasa, (14/07/2026). Kebijakan ini dirancang untuk mengunci payung hukum program perlindungan sosial yang terintegrasi dari tingkat provinsi hingga kabupaten.
Sekretaris Daerah (Sekda) Papua Selatan, Ferdinandus Kainakaimu, menyatakan bahwa menciptakan generasi unggul di wilayah ini memerlukan kerja keras dan fondasi yang kuat.
“Membangun generasi emas di Papua Selatan bukan hal gampang. Membangun generasi emas Papua Selatan harus mendukung visi Gubernur dan Wakil Gubernur yaitu sehat, cerdas, dan sejahtera, ” ujar Ferdinandus di hadapan peserta lokakarya.
Program Gemas Ha-Anim menitikberatkan intervensi pada masa krusial pertumbuhan manusia. Tujuannya mencakup stimulasi tumbuh kembang bayi usia 0-12 bulan, peningkatan kesehatan ibu hamil, hingga pemberian gizi yang tepat. Melalui program ini, pemerintah provinsi ingin memastikan keluarga rentan mendapatkan pendampingan berkelanjutan agar kualitas hidup mereka meningkat.
Dalam implementasinya, Dinas Sosial Provinsi Papua Selatan berencana mengalokasikan bantuan dana senilai Rp250 ribu per kepala keluarga bagi masyarakat asli Papua. Namun, Ferdinandus menekankan bahwa beban ini tidak bisa dipikul sendiri oleh provinsi.
“Kalau dinas kabupaten per kabupaten menambah Rp250 ribu lagi, itu baik. Kolaborasi antara pemerintah provinsi dan kabupaten sangat penting, harus ada komitmen bersama, ” tegas Ferdinandus.
Sinergi antar-Organisasi Perangkat Daerah (OPD) juga menjadi sorotan. Sekda mengajak seluruh instansi di tingkat kabupaten untuk bersaing dalam inovasi program yang mampu menurunkan tingkat kemiskinan. Nantinya, pendampingan akan dilakukan secara teknis dengan melibatkan Dinas Kesehatan untuk memantau tumbuh kembang bayi secara berkala serta memberikan edukasi gizi bagi para ibu.
Menutup arahannya, Ferdinandus meminta seluruh pihak untuk tidak sekadar menjadikan program ini sebagai rutinitas administratif, melainkan gerakan nyata penyelamatan generasi masa depan.
“Mari kita bersama-sama menyukseskan dan mengerjakan program ini, ” pungkasnya. (Rizki)




