Jakarta – Kabarlagi.id Menjelang Hari Raya Idul Fitri, Kementerian Agama (Kemenag) kembali menggelar sidang isbat untuk menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah atau hari pelaksanaan Lebaran. Seperti tahun-tahun sebelumnya, proses penentuan awal bulan Hijriah ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari ahli astronomi, perwakilan ormas Islam, hingga instansi terkait.
Dalam beberapa dekade terakhir, perbedaan penetapan awal Ramadan maupun Syawal masih kerap terjadi. Hal ini dipengaruhi oleh perbedaan metode, seperti rukyat (pengamatan hilal) dan hisab (perhitungan astronomi). Kondisi tersebut tak jarang memunculkan perdebatan di tengah masyarakat.
Meski demikian, perbedaan ini dinilai sebagai hal yang wajar dalam ranah ijtihad yang memiliki dasar ilmiah dan syar’i. Umat Islam diimbau untuk mengedepankan sikap toleransi dan kedewasaan dalam beragama.
Masyarakat yang mengikuti keputusan pemerintah melalui sidang isbat tetap dapat menjalankan ibadah sesuai ketetapan tersebut. Sementara itu, warga Muhammadiyah juga menjalankan ibadah berdasarkan maklumat organisasinya. Kedua sikap ini diharapkan dapat berjalan berdampingan dengan saling menghormati.
“Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan menjadi sarana memperkuat persaudaraan sesama umat Islam,” demikian pandangan yang berkembang di tengah masyarakat.
Ketua Umum Laskar Merah Putih (LMP), H. M. Arsyad Cannu, dalam keterangannya kepada awak media, Kamis (19/3/2026), turut mengajak seluruh umat Islam untuk menyambut Idul Fitri dengan penuh kebersamaan.
Ia menyampaikan, “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H. Mohon maaf lahir dan batin. Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim.”
Dengan demikian, perbedaan penetapan 1 Syawal hendaknya tidak dipandang sebagai sumber perpecahan. Sebaliknya, momentum ini diharapkan mampu memperkuat ukhuwah islamiyyah, menumbuhkan sikap saling menghargai, serta memperkaya khazanah intelektual umat Islam melalui keberagaman ijtihad.**


