Washington – Kabarlagi.id. Maraknya laporan model kecerdasan buatan (AI) yang membobol sistem saat pengujian memicu kekhawatiran global terkait keamanan siber. Namun para ahli menegaskan bahwa ancaman terbesar bukan berasal dari kecerdasan mesin itu sendiri, melainkan dari manusia yang memanfaatkan teknologi tersebut untuk aksi kejahatan.
Laporan IBM mencatat satu dari empat peretasan data pada periode Februari 2025 hingga Maret 2026 didorong oleh pemanfaatan AI. Sementara itu, data Biro Investigasi Federal (FBI) menunjukkan warga Amerika Serikat mengalami kerugian lebih dari 893 juta dolar AS akibat penipuan berbasis AI sepanjang tahun lalu. Para pakar menegaskan bahwa teknologi AI tidak menciptakan metode kejahatan baru, melainkan mempercepat dan mengefisiensikan trik konvensional seperti rekayasa sosial dan penyebaran perangkat perusak.
Profesor Emeritus University of Washington sekaligus mantan CEO Allen Institute for Artificial Intelligence, Oren Etzioni, mengingatkan pentingnya fokus pada pelaku utama kejahatan siber.
“Manusia lah yang perlu kita waspadai. AI hanyalah sebuah alat,” kata Oren Etzioni.
Insiden AI melompati batasan pengujian memang sempat mencuri perhatian dalam beberapa bulan terakhir. Pada Juli, model uji coba OpenAI menembus sistem perusahaan lain, disusul insiden Anthropic yang mendapati modelnya membobol tiga perusahaan saat pengujian internal. Lembaga Keamanan AI Inggris mengonfirmasi model tercanggih Anthropic mencoba mengelabui manusia dengan identitas palsu, sementara Meta melaporkan salah satu modelnya meretas perusahaan eksternal.
Berbagai insiden pembobolan laboratorium tersebut terjadi karena peneliti sengaja mematikan fitur pengaman untuk mengukur batas kemampuan AI secara maksimal. Kepala Operasi Penanggulangan CrowdStrike, Adam Meyers, menjelaskan situasi pengujian laboratorium sangat jauh berbeda dari kondisi operasional sehari-hari.
“Saya tidak bisa begitu saja menggunakan ChatGPT atau Claude lalu sistem itu secara tidak sengaja membobol FBI, itu tidak akan terjadi. Jadi yang kita lihat ini dilakukan dalam kondisi pengujian spesifik saat peneliti memantau apakah sistem melakukan sesuatu di luar dugaan,” kata Adam Meyers.
Sifat AI yang sulit diprediksi saat menerjemahkan instruksi juga menjadi perhatian para peneliti. Kepala Simulasi Peretas Global IBM, Patrick Fussell, mengibaratkan interaksi manusia dengan sistem AI layaknya meminta permohonan kepada jin.
“Anda ingin mengajukan permohonan, tetapi Anda harus sangat spesifik mengenai rincian permohonan tersebut. Jika tidak, hal itu bisa berjalan keliru,” kata Patrick Fussell.
Di tangan peretas, AI kini diandalkan untuk menganalisis target, mengotomatisasi negosiasi pemerasan, hingga meniru suara manusia. Kepala Pusat Operasi Risiko Resilience, Jud Dressler, menekankan bahwa peran manusia tetap menjadi pengendali utama di balik pengoperasian serangan tersebut.
“Para peretas menggunakan AI untuk meningkatkan metodologi serangan siber pada semua tahapan, tetapi kendali utamanya tetap di tangan manusia,” kata Jud Dressler.
Kemudahan mengoperasikan AI membuat peretas berkeahlian rendah mampu melancarkan aksi berskala besar. Wakil Presiden Korporat Perlindungan Ancaman Microsoft, Rob Lefferts, menyoroti efisiensi biaya yang dinikmati para pelaku kejahatan.
“Dengan AI, mereka dapat mengotomatisasi pembangunan infrastruktur sehingga biaya pembuatan ulang menjadi sangat murah, dan itu mengubah peta permainan,” kata Rob Lefferts.
Meningkatnya risiko kejahatan siber berbasis AI mendorong desakan perlunya regulasi ketat dari pemerintah. Lebih dari 1.200 pekerja industri AI, termasuk CEO Anthropic Dario Amodei, telah menandatangani surat terbuka untuk mengendalikan laju pengembangan teknologi. Gedung Putih juga telah mengumpulkan pimpinan perusahaan teknologi untuk membahas kerangka peninjauan sebelum model AI resmi dirilis.
Mengenai ancaman jangka panjang terkait kecerdasan buatan yang setara dengan manusia atau *Artificial General Intelligence* (AGI), Fussell menilai skenario tersebut masih sangat jauh dari kenyataan saat ini.
“Ini seperti bertanya kepada seseorang bagaimana rasanya tinggal di planet lain. Anda bisa membayangkannya, tetapi hal itu jauh di luar kemampuan kita untuk benar-benar membuat rencana,” kata Patrick Fussell. (Rizki)




