Merauke – Kabarlagi.id. Jagat media sosial seperti TikTok, Threads,  X, dan Instagram kini diramaikan oleh kemunculan beragam istilah gaul baru rakitan generasi Z. Fenomena pelesetan bahasa Inggris ini mencuri perhatian warganet, salah satunya frasa “orang have” yang mendadak populer sebagai bahan candaan gaya hidup.

Secara harfiah, kata have dalam bahasa Inggris memang berarti memiliki. Namun di tangan para anak muda di linimasa, frasa “orang have” dipelesetkan menjadi sebutan bagi seseorang yang dianggap “orang punya” atau berkecukupan. Istilah tersebut kerap disematkan kepada mereka yang dinilai mampu membeli barang tanpa sibuk memperhitungkan harga.

Penggunaan frasa ini sebenarnya tidak selalu merujuk pada sosok kaya raya. Warganet kerap melontarkan sebutan “orang have” sekadar untuk merespons rekannya yang baru saja menerima gaji, membeli gadget baru, atau memesan tiket liburan ke luar negeri.

Deretan Pelesetan Istilah Gaul Gen Z

Popularitas “orang have” dengan cepat memicu lahirnya deretan variasi lain yang tak kalah unik. Kreativitas warganet melahirkan frasa “orang not yet” untuk menggambarkan kondisi seseorang yang belum mencapai target tertentu, seperti belum bekerja, belum gajian, atau belum menikah. Sementara itu, istilah “orang need” dipakai untuk menyebut mereka yang sedang membutuhkan pekerjaan atau bantuan materi.

Variasi tata bahasa Inggris pun ikut diacak-acak demi unsur humor. Ada istilah “orang haven’t” sebagai kebalikan dari orang have, serta “orang had” yang merujuk pada seseorang yang “dulunya punya” atau pernah memiliki sesuatu. Bagi mereka yang sudah pasrah dan mengikhlaskan keadaan, warganet menyematkan sebutan “orang let go“.

Dua istilah lain yang sering melintas di kolom komentar adalah “orang clear” dan “orang not clear“. Frasa ini mengacu pada karakter seseorang—apakah sosok tersebut tegas dan memberikan kepastian, atau justru membingungkan dan tidak konsisten. Ada pula pelesetan “orang there is” yang mengaitkan frasa there is menjadi sebutan untuk “orang berada”, serta “orang inside” atau “orang in” untuk menyebut sosok yang memiliki akses orang dalam.

Di antara seluruh jajaran istilah tersebut, sebutan “orang aring” menjadi yang paling absurd. Meminjam nama tanaman herbal liar urang-aring, istilah ini dipakai warganet untuk menggambarkan kondisi seseorang yang sedang bingung.

Kreativitas Campur Bahasa Jadi Pemicu Viral

Fenomena ini pada dasarnya berakar dari kebiasaan generasi Z menyatukan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Alih-alih patuh pada aturan tata bahasa yang baku, kata-kata tersebut sengaja diartikan secara mentah agar menciptakan efek lucu dan mudah diingat.

Kepraktisan frasa-frasa ini dalam mewakili situasi sosial membuat penyebarannya berlangsung sangat cepat di berbagai platform media sosial. Bahasa gaul ini kini menjadi sarana interaksi yang mencairkan suasana di ruang digital. (Rizki)