Merauke – Kabarlagi.id. Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disporaparekraf) Provinsi Papua Selatan menggelar promosi budaya, kerajinan tangan, dan destinasi wisata unggulan di Jakarta pada 24–26 Juli 2026. Kegiatan berjudul “Experience Papua Selatan: The Untouched Side of Indonesia” berlangsung di Anjungan Sarinah (CFO) dan menjadi panggung utama untuk memperkenalkan potensi pariwisata serta ekonomi kreatif wilayah otonom baru ini.
Acara dibuka oleh Asisten I Setda Papua Selatan, Agustinus Joko Guritno, yang mewakili Gubernur Apolo Safanpo. Dalam sambutannya, Guritno menekankan pentingnya momentum ini untuk menampilkan keanekaragaman budaya Papua Selatan yang masih relatif asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.
“Melalui kegiatan Experience Papua Selatan, masyarakat dapat melihat secara langsung kekayaan budaya, seni, kerajinan, serta berbagai destinasi wisata unggulan yang dimiliki Papua Selatan,” tegas Agustinus Joko Guritno, Jumat (24/07)
Ia menambahkan bahwa promosi serupa sangat krusial agar provinsi yang baru terbentuk berdasarkan Undang‑Undang Nomor 14 Tahun 2022 ini dapat dikenal lebih luas. “Papua Selatan masih banyak diselimuti misteri; melalui pameran ini, kami berharap wisatawan dapat merasakan keaslian dan keunikan yang belum banyak terjamah,” ujar Guritno.
Selama tiga hari, pengunjung dapat menjelajahi stan‑stan yang menampilkan produk budaya khas Kabupaten Merauke, Mappi, Asmat, dan Boven Digoel. Antara lain terdapat ukiran kayu, anyaman rotan, serta hasil kerajinan tangan yang mengusung motif tradisional. Selain itu, informasi lengkap mengenai destinasi wisata seperti Taman Nasional Wasur, Pantai Tanjung Redeb, dan Danau Sentani dipajang secara interaktif.
Guritno berharap inisiatif ini tidak hanya bersifat insidental. “Kami berkomitmen untuk melanjutkan promosi berkelanjutan, sehingga semakin banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang tertarik mengunjungi Papua Selatan,” tandas Guritno.
Pengunjung Sarinah dan warga Jakarta diajak untuk menyusuri setiap sudut pameran, mencicipi kuliner khas, serta berinteraksi langsung dengan pengrajin lokal. Dengan demikian, harapan Disporaparekraf adalah menumbuhkan rasa penasaran dan kecintaan terhadap warisan budaya Papua Selatan yang masih alami. (Rizki)

